Postingan

Menampilkan postingan dari 2011
Memilih untuk menjaga hati seorang wanita mungkin itu berarti kita harus memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk menjaga hati itu. Sebagai penerang dan penghangat ruang itu. Sebagai penjaga yang diharuskan berbuat apa saja agar hati itu tetap ada disana. Cinta. Mungkin cinta itu yang kita butuhkan. Kita berikan cinta padanya agar hati itu selalu terjaga. Dengan mencintainya, seseorang yang telah merelakan hatinya untuk kita jaga, adalah sebuah keharusan. Apa jadinya jika kita tidak memiliki cinta untuknya? Lalu bagaimana kita menjaga hatinya tanpa cinta? Ibarat kita menjaga sesuatu di kegelapan, kita tidak memiliki penerangan atau lentera yang bisa digunakan. Kita bahkan tidah memiliki daya apapun untuk menjaganya, untuk menemaninya, memeluknya dikala dingin menyerang, menjadi pundak yang dimana dia sandarkan segala keluh kesahnya. Menjadi cawan dimata dia tumpahkan airmatanya. Lalu menjadi tempat dimana dia merasa selalu bahagia, tertawa riang seperti musim semi, menari bak huj...
Kembali rintik gerimis mengeja pikiranku Hembusan dinginnya memelukku beku, mengigil menyentuhku meraba lalu bertanya Ada apa dengan jiwa yang kupeluk? Jiwa itu terdiam dalam kekhusyukan galaunya Aroma kopi berpadu dengan udara yang bercinta dengan gerimis Panas yang menaunginya tersingkir dilumat habis Kuseruput sedikit kopi yang telah terenggut kehangatannya Lalu kucoba ceritakan padanya : “ Wahai rintik hujan yang memelukku, pernahkah hatimu terbelenggu? Mungkin tidak, karena kau selalu bergandeng mesra dengan dinginmu. Kau slalu bercumbu rayu dalam kedatanganmu, membawa kisah kisah cintamu yang tak terkekang waktu.” Ia tertawa sinis Kuseruput lagi kopi, sedikit lebih banyak “ Kau tahu, kadang aku ingin hembuskan kata kata penuh cinta padanya seperti yang selalu kau senandungkan pada kekasihmu. Puisi puisi rindu yang kau sematkan di dinding dinding hatinya. Nafas kasmaran yang kau hembuskan ke dalam relung jiwanya Lalu ia, k...

Hujan

Di remang malam yang menghitam Jabang sang hujan, awan hitam menggantung Bayi bayi sang hujan, gerimis menitik Satu persatu membasahi luka yang usang Sirami wajah sayu membiru Hujan, Biarkan aku tahu siapa dia Bintang yang selalu saja kau sembunyikan di balik angkuhmu itu Lalu biarkan dia tahu aku Yang terpaku karena mengutukimu Di remang langitmu Dalam pelukan dinginmu Aku terjaga, masih terjaga Menatap, mencari dan menanti, kadang meratapi Di bawah tarianmu wahai pelukis sepi Aroma menghembus terurai dari nafasmu Memelukku Aku penat, aku bosan Kau tak juga membuka rahasiamu Hujan, Biarkan saja aku setubuhimu memelukmu hingga jiwaku Lalu kau reguk pedihku Dan kau cabut perihku Terimalah jiwaku Agar aku bisa menari bersamamu Lalu bercinta denganmu Bersama menikmati malam Melukis sepi dengan senandungmu

Koran

Pagi cerah merangsek mengirimkan seberkas sinarnya melalui sela-sela jendela. Kupicingkan mataku ke arah jam di atas meja kamarku. Ah, ternyata sudah jam 6 pagi. Kupaksakan tubuhku untuk bangkit dari ranjangku. Rasa kantuk masih terasa berat menggantung di mataku. Kusadari istriku sudah tak lagi di tempat tidur Melawan rasa kantuk sambil sesekali menguap aku berjalan keluar dari kamarku menuju ruang tamu, lalu ke depan rumah. Di teras rumahku yang mungil kuregangkan kedua tanganku menyambut pagi sambil sekali kali mulutku menghempaskan sisa-sisa kantukku. Gunung sindoro sumbing tampak gagah menjadi landscape di depan rumahku setiap hari. Samar terdengar langkah kecil dari dalam rumah. Istriku datang membawa secangkir kopi panas kemudian diletakkan di meja teras. “Ini kopinya mas.” Aku berbalik mendapati istriku sedang meletakkan secangkir kopi di atas meja. Ah, betapa cantiknya perempuan ini. Meski baru bangun tidurpun dia terlihat cantik. Aku sungguh merasa sangat beruntung bisa ...

Trimbil

Deretan kursi panjang terbuat dari kayu jati berjajar menghadap loket pengambilan resep obat dokter. Tampak tidak begitu ramai hari itu. Orang-orang tampak tidak begitu bergairah. bagaimana tidak, di tempat itu, deretan kursi panjang itu adalah deretan harapan dan kecemasan. Harapan untuk kesembuhan dan kesehatan mereka yang sakit dan sekaligus kecemasan bagi mereka yang miskin dan papa. Di antara mereka yang dilanda harapan dan kecemasan itu, Trimbil laki-laki kecil yang belum tamat SMP tampak duduk termenung. Menatap jam dinding yang terletak di atas loket. Tatapannya nanar, jarum jam yang selalu menari tak peduli seolah waktu tengah mempermainkannya habis-habisan. Dan Trimbilpun juga tak peduli. Tubuhnya kurus legam dan rambut keriting yang berwarna kemerahan tak terawat tampak seenaknya sendiri menjuntai kesana kemari tak karuan. Di wajahnya yang tirus, tergambar beban dan cambukan kehidupan yang ia tanggung. Pakaian pramuka yang sudah lusuh melekat di badannya. Seharusnya ha...

Rumput Terdalam

Bosan, aku jenuh, aku lunglai, aku tertusuk, aku bosan Aku ingin bicara, mengangkat kuat – kuat kedua bibirku, membuka lebar – lebar mulutku, Aku tidak ingin bicara, tak ingin bicara apapun, bergumam pun ku tak ingin, Aku ingin teriak saja, ku ingin membuat dunia yang sunyi ini bergetar mendengar teriakku Aku ingin singa – singa dan serigala – serigala terbangun dari tidur panjangnya karena mendengar teriakku Aku sesak, aku terdesak, aku terjebak Aku ingin berjalan kemanapun kumau, mengangkat kakiku mengayunkannya secepat lalu sejauh mungkin Aku tidak ingin berjalan, tak ingin berjalan kemanapun, sejengkalpun tak ingin Aku ingin berlari, cepat. Secepat angin pemburu. Aku ingin berlari, jauh. Sejauh kematian menungguku. Sepi, sunyi Kalianlah sahabatku dalam sepi, dalam sunyi Beranjaklah dari pijakanku, pergilah karena akupun telah bosan bersama kalian Aku tak ingin lagi sunyi, aku tak mau lagi sepi Tak ingin kusendiri Aku ingin pergi ke sebuah tempat dimana burung – burung...

Pagi

Pagi mengetuk pintu-pintu mimpi anak-anak manusia Tuk segera pergi meninggalkannya Keluar dari labirin-labirin tak berujung Membuka mata tuk hidup yang harus dilanjutkan Ada yang berdecak : Ah, ternyata Cuma mimpi…. Ada yang berdecak : Ah, untung saja Cuma mimpi…. Ada pula yang tak peduli Uzee_Smrng, 200511

Waktu

Adalah kata yang tak terucap, membelenggu luapan jiwa yang tak terungkap. Tersalib oleh ruang yang kutak tahu dimana. Oleh waktu yang tak bisa ku raba. Seperti berlalu begitu saja. Seperti awan hitam yang membendungkan hujan. Namun tidak hujan. Hanya rintikan sekali kali terlihat. Gemuruh badai yang tak terdengar namun ada. Tersembunyi di balik angkuhnya dingin senja. Pagi seperti tak bersua. Malas tertidur dalam genggaman mimpi mimpi yang bisa menghanguskan semua. Embun mengering tergantikan debu. Dalam kalutnya asa yang mengganggu. Aku. Tak pernah bisa mengerti aku. Tak pernah bisa menyelami mencari tahu. Hanya termangu. Di sudut mimpiku. Waktu. Kau lahirkan semuanya. Kau tanamkan semuanya. Kau tumbuhkan semuanya. Lalu, kau hancurkan semuanya. Kau musnahkan semuanya. Kau hempaskan semuanya. Waktu. Lalu engkaukah yang akan menghapuskan semuanya? Membunuh semuanya? Mencabut semuanya? Waktu. Engkaukah yang akan menyembuhkan semuanya? Mengeringkangkan semuanya? Sejauh waktu memb...

Tragic

14 Desember 2010 19.32 Beberapa jam sebelumnya. Hari itu langit kota Semarang sedang pilu. Matahari tengah malas menampakkan diri. Sedang patah hati barangkali. Titik-titik air berebut mencumbui udara yang lumayan dingin. Yang tidak beberapa lama kemudian langit secara emosional menumpahkan keluh kesahnya. Hujan. Hujan turun deras siang itu. Ah sial..seharusnya hari ini adalah waktuku untuk hang out. Hari selasa adalah hari liburku. Agak ganjil memang. Disaat orang-orang menikmati hari minggu untuk bersantai di rumah sambil baca Koran dan minum kopi, aku harus bekerja. Sedangkan hari selasa saatnya orang-orang berjibaku dengan kesibukan, maka aku sebaliknya. Orang lain memiliki istilah malam mingguan, sedangkan bagiku malam selasanan. Dengan malas aku berusaha membangunkan diri dari tidur siangku. Kupicingkan mataku yang masih mengantuk. Kucari-cari handphone yang seingatku kutaruh di sebelahku. Ah, ternyata di bawah bantal. Ku pencet tombol unlock lalu tombol bintang di pojok...

Untuk Ayah

Memaksakan diri pulang dari Semarang ke Wonosobo jam 10 malam sendirian mengendarai motor adalah sebuah keputusan yang kurang bijak. Maka aku memutuskan untuk sedikit bijak demi keamanan, transit sebentar di Ambarawa di tempat kakak keponakanku. Aku menginap dulu di sana. Sebuah ruko yang dibuat tempat bimbingan belajar. Setelah pagi merekah, aku kemudian melajutkan perjalaanku. Matahari belum lama membangunkan isi dunia. Kutelusuri jalan menuju kota kelahiranku dengan sepeda motorku. Menembus pagi yang menyisakan udara dingin berkabut. Hawa dingin mencoba menelisik melalui sela – sela jaketku. Di sebelah kiriku terlihat jelas menjulang memonopoli pandangan. Adalah gunung sumbing yang perkasa lalu di sebelah kananku adalah gunung sindoro yang begitu anggun. Mereka begitu jumawa mengapit jalan antar kota itu. Begitu menakjubkan. Di kakinya, ladang – ladang tembakau bersanding dengan perkebunan teh yang menghijau siap untuk dipetik. Embun pagi terlihat menyelimuti dahan – dahan dan d...

Gerimis di Kuburan Suamimu

Kupayungi tubuhmu yang sebagian telah basah dan kotor, menghindarkan air hujan yang terus saja berusaha membasahi tubuhmu. Tidak terlalu deras hujan sore ini. Hanya rintik-rintik sisa hujan tadi siang, namun masih membekas di mendungnya langit. Angin menaungi dengan membawa selimut dingin. Langit begitu sembab terisak. Sendu sepertimu. Tak hentinya engkau menangisi tanah merah yang memendam jasad suamimu. Kau masih belum percaya bahwa laki-laki yang perkasa dan selalu menyakitimu itu meninggalkanmu. Laki-laki itu begitu kuat terhadapmu, yang selalu tak segan mendaratkan tangan kasarnya di wajah ayumu. Memerahkan liurmu, menghitamkan bibirmu. Kau adalah wanita yang lembut, tak berbuat apa-apa meski bertubi-tubi kekejian menamparmu. Kau ikhlas, kau terima begitu saja perlakuan suamimu. Aku benar-benar tak paham denganmu. Kini laki-laki perkasa yang menguasaimu itu terbujur kaku di dalam timbunan tanah. Dia kini lemah, tak berdaya, hanya seonggok daging mati yang tak berguna. ****...

Aku, Malam dan Kamarku

Di malam ini kusapa malam tak berbintang. Karena mendung menyapu langit, begitu sejak dua malam ini. Bintang bintang memang sedang tidak diijinkan tersenyum oleh sang mendung. Dan langitpun tak bisa berbuat apa apa. Titik titik gerimis seakan runtuh menangisi sepi. Datang dengan belaian angin malam menghembuskan dingin hingga menyusup ke dalam tubuhku yang terbalut jaket hitam. Dari ruang kamarku yang sebelumnya adalah bagian dari ruang tamu yang sengaja disekat dengan papan, aku memandang keluar menembus kaca jendela. Sesekali korden berwarna biru yang entah sudah berapa lama tidak kucuci, manja dibelai angin yang berhembus masuk ke kamarku. Beradu dengan alunan lagu Sweetheartnya The Bee Gees yang bernyanyi dari mulut radioku. Ah, lagu yang indah. Daun daun pohon rambutan yang terletak tepat di seberang kamarku terbuai oleh tetesan air gerimis, menari seiring buaian angin yang mencumbuinya. Terdengar suara kucing yang sedang bertengkar memperebutkan betina barangkali, bersaing den...

Satu Sisi

M engagungkan cinta yang tak pernah kumengerti adalah penderitaan yang tak pernah kutahu ujungnya. Cinta yang kurasakan ibarat hanya satu sisi mata uang. Karena satu sisi yang kudambakan itu tak pernah mau menggubrisnya.  Satu sisi kepingan itu tak sudi. Kupikir.             Timpang.             Mungkin ibarat aku seperti uang logam 500 rupiah, sedang dia adalah sebuah mata koin emas berharga ratusan juta. Ingin aku pada suatu waktu, berdiri di depannya menatap matanya dan dia menatap mataku. Dalam bayanganku dia tersenyum manis seperti biasanya. Dengan kemantapan hati kukatakan semuanya. Bahwa aku sungguh mencintainya.             Berat hatiku jika seandainya dia benar-benar menampikku. Ah, aku tak tahu harus bagaimana. Kadang aku kuatir dan takut kehilangannya. Seseorang yang tak pernah kumiliki.    ...