Gerimis di Kuburan Suamimu

Kupayungi tubuhmu yang sebagian telah basah dan kotor, menghindarkan air hujan yang terus saja berusaha membasahi tubuhmu. Tidak terlalu deras hujan sore ini. Hanya rintik-rintik sisa hujan tadi siang, namun masih membekas di mendungnya langit. Angin menaungi dengan membawa selimut dingin. Langit begitu sembab terisak. Sendu sepertimu.
Tak hentinya engkau menangisi tanah merah yang memendam jasad suamimu. Kau masih belum percaya bahwa laki-laki yang perkasa dan selalu menyakitimu itu meninggalkanmu. Laki-laki itu begitu kuat terhadapmu, yang selalu tak segan mendaratkan tangan kasarnya di wajah ayumu. Memerahkan liurmu, menghitamkan bibirmu.
Kau adalah wanita yang lembut, tak berbuat apa-apa meski bertubi-tubi kekejian menamparmu. Kau ikhlas, kau terima begitu saja perlakuan suamimu.
Aku benar-benar tak paham denganmu.
Kini laki-laki perkasa yang menguasaimu itu terbujur kaku di dalam timbunan tanah. Dia kini lemah, tak berdaya, hanya seonggok daging mati yang tak berguna.

****************

Lima tahun lalu, waktu mempertemukanmu dengan suamimu. Kau saat itu berusia 21 tahun dan wajahmu begitu cantik. Kau adalah bunga desa. Tubuhmu yang tidak terlalu tinggi dimahkotai oleh rambut lurus semampai di pundakmu. Kulit tubuhmu halus langsat khas gadis desa. Tutur katamu lembut, dan budimu secantik wajahmu.
Di saat anak-anak gadis lain seusiamu berangkat ke kota mencari sekerat rupiah, kau sekalipun tidak pernah berpikir untuk meninggalkan desamu meski sejengkalpun. Kau memutuskan untuk menemani ibumu di rumah sederhana itu.
Banyak lelaki dari desa maupun tetangga bersaing utuk mendapatkanmu. Dan ku akui termasuk aku. Kau selalu diperbincangkan saat nongkrong, di ladang, di sungai dan dalam tidurpun kau selalu menjadi topik mimpi.
Namun semuanya kau tampik, dengan senyummu yang begitu sopan dan kata-kata yang halus. Membuat mereka yang kau tolak tidak tega untuk mendendam padamu meski mereka hancur.
Anak lurah desa tetangga yang baru lulus sarjana, kau tolak. Anak seorang juragan sapi di desa pun kau tampik. Banyak laki-laki kaya maupun kere yang mencoba memperebutkanmu. Namun tidak ada yang mampu meluluhkan hatimu.
Entah lelaki macam apa yang menjadi idamanmu.
Hingga suatu hari entah bagaimana kau bisa mengenal lelaki itu. Namanya Edi. Dia datang dari Jakarta untuk mengunjungi pamannya yang tinggal di desa kami selama hampir satu bulan. Orangnya pendiam dan terkesan angkuh. Badannya tidak terlalu tinggi tapi tidak bisa dibilang pendek juga.
Rumah paman Edi berada tepat di depan rumahmu. Dan setelah beberapa hari, aku sering melihatnya duduk sendirian di depan rumah pamannya sambil terus memandangi rumahmu. Entah apa yang dia pikirkan dan yang jelas hal itu membuatku terganggu. Aku tidak suka sama sekali.
Pernah sekali waktu aku lewat depan rumah pamannya. Di saat dia pandangi rumahmu, ku coba menyapanya. Tapi dia diam angkuh padaku, lalu masuk ke rumah begitu saja tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Hingga beberapa hari kemudian semua lelaki yang memimpikanmu di buat hancur. Karena tersiar kabar kalau kau akan segera menikah dengan laki-laki angkuh itu.
Dan kaupun meninggalkan ibumu, desamu dan meninggalkan lelaki-lelaki yang hancur hatinya ke Ibukota mengikuti suamimu. Sejak itu tak pernah aku dengar kabar beritamu.

*******************

Kondisi ekonomi memaksaku hijrah ke Ibukota tiga tahun kemudian. Sambil berharap aku bisa bertemu denganmu.
Dua tahun, aku telah akrab dengan Jakarta. terus berusaha mencari keberadaanmu di Ibukota, aku berusaha bertahan dalam kerasnya cengkeraman Jakarta.
Dan suatu hari aku bertemu denganmu di pasar senen. Kau tampak sibuk dengan belanjaanmu. Dan betapa senangnya saat kusapa, ternyata itu benar-benar kau. Meskipun wajahmu berubah, namun kau masih terlihat cantik bagiku. Namun ada yang tidak wajar dengan wajahmu. Kau tampak sangat lelah, pucat dan seakan kehidupan telah menindihmu.
Aku menyapamu, dan kau melihatku seperti melihat hantu. Seolah tak percaya bahwa aku telah berada di depan matamu. Lalu kau tersenyum, ah…senyuman itu, masih sama seperti dulu. Kerinduanku selama ini padamu telah terobati.
Selang beberapa waktu aku mengetahui bahwa ternyata hidupmu dengan Edi tidak bahagia. Kau yang telah beranak satu tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Dan yang lebih membuatku sedih saat kutahu bahwa Edi sering menyiksamu.
Saat kutanya kenapa tidak dilaporkan saja kelakuan Edi ke polisi?
“Tidak, biar bagaimanapun, dia suamiku. Aku sangat mencintainya.”
Jawabanmu sungguh tidak masuk akal bagiku.
Ah, kau tidak tahu bagaimana sakitnya aku. Kau tidak tahu bahwa tidak ada wanita manapun yang singgah di hatiku selain kamu.
Malam itu, hujan badai baru saja mengamuk di ibukota. Sisa-sisa hujan kini hanyalah rintikan gerimis yang membekukan jiwa. Genangan air setinggi mata kaki begitu tenang manyetubuhi jalanan. Malam itu kuterobos gerimis menggunakan sepeda motorku. Tanpa jas hujan, hanya berbalut jaket kulit usang aku pergi ke sebuah gang kecil. Kuparkir motorku di tempat agak gelap dan tersembunyi di sudut gang.
Sepi, hanya tikus-tikus got yang berlarian sesekali. Diam-diam aku melangkah menginjak genangan air di gang itu. Ku terdiam menunggu di depan sebuah lapak kecil yang telah tutup, samar cahaya karena hanya diterangi sebuah lampu kecil. Ku sengaja menyembunyikan diri di kegelapan.
Sekitar 15 menit, orang itu datang. Sudah lama aku menunggunya, orang yang sangat kubenci. Terlihat dia sempoyongan karena habis menenggak alkohol. Sendiri berjalan sambil berusaha menegakkan tubuhnya yang sempoyongan. Kutunggu waktu yang tepat sampai dia berada beberapa meter dekatku.
Aku keluar dari persembunyianku dalam gelap. Lalu aku menghampirinya. Sejenak kami saling berhadapan. Matanya angkuh menatapku tajam, seperti dulu.
Dia seperti berusaha mengingat sesuatu tapi kesulitan. Aroma alkohol begitu tajam keluar beradu dengan detak jantungku.
Berkelebat di mataku bayang-bayang tangan kotornya menyentuh pipi orang yang kucintai. Tubuh menjijikkan itu menindihnya. Menyakitinya.
Ku ambil pistol yang kusembunyikan di balik jaketku.
Dorrr….Dorr….Dorr….suara tembakan mengejutkan sepi. Dengan lesatan tinggi peluru-peluru muntah dari pistolku menembus hujan, menerobos dingin dan menghujam beberapa bagian tubuhnya. Begitu cepat. Hingga suara-suara panik dan terkejut terdengar dari dalam rumah-rumah.
Bergegas aku menyatukan diri dengan kegelapan. Meninggalkan tempat itu dengan penuh kemenangan.
Dua peluru bersarang di dadanya. Satu peluru sukses bertengger di perutnya. Aku yakin, malaikat maut takkan kesulitan mencabut nyawanya. Mungkin malaikat mautpun jijik dengan sampah pecundang itu.

*******************

Tangismu mulai terdengar mereda. Kini hanya tersisa sesenggukan. Area kuburan benar-benar sepi. Gerimis masih saja tak bosan menari-nari. Dan kau masih saja meratapi kuburan suamimu.
Kau seolah tak percaya. Dua hari suamimu tidak pulang, dan kau menemukan suamimu telah mati. Seseorang telah membunuhnya, kata orang-orang 3 peluru bersarang di tubuhnya.
Kau masih saja meratapi laki-laki itu. Laki-laki yang telah lama menyiksamu. Membuat luka di tubuh dan hatimu Laki-laki yang telah berani merebut pujaanku dan membuat hidupnya menderita.
Langit berhenti menangis, siluet jingga terbuka malu malu mencuri perhatian, manjadi atap sore itu.



Uzee_Smrng_December_2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil