Aku, Malam dan Kamarku
Di malam ini kusapa malam tak berbintang. Karena mendung menyapu langit, begitu sejak dua malam ini. Bintang bintang memang sedang tidak diijinkan tersenyum oleh sang mendung. Dan langitpun tak bisa berbuat apa apa. Titik titik gerimis seakan runtuh menangisi sepi. Datang dengan belaian angin malam menghembuskan dingin hingga menyusup ke dalam tubuhku yang terbalut jaket hitam.
Dari ruang kamarku yang sebelumnya adalah bagian dari ruang tamu yang sengaja disekat dengan papan, aku memandang keluar menembus kaca jendela. Sesekali korden berwarna biru yang entah sudah berapa lama tidak kucuci, manja dibelai angin yang berhembus masuk ke kamarku. Beradu dengan alunan lagu Sweetheartnya The Bee Gees yang bernyanyi dari mulut radioku. Ah, lagu yang indah.
Daun daun pohon rambutan yang terletak tepat di seberang kamarku terbuai oleh tetesan air gerimis, menari seiring buaian angin yang mencumbuinya.
Terdengar suara kucing yang sedang bertengkar memperebutkan betina barangkali, bersaing dengan suara radio butut yang selalu menjadi temanku disaat saat seperti ini.
Kualihkan pandanganku menuju jam di atas meja mungil di samping tempat tidur. Sudah jam 11 malam rupanya.
Ada sesuatu dalam pikiranku yang ganjil, gemar sekali mengganggu. Telah lama mengusik hari hariku. Seseorang yang dengan senyumnya yang selalu menari nari dan menggoda pikiranku. Dan malam ini begitu hebatnya perasaan ini menyerangku.
Suasana lebaran masih terasa malam ini. Empat hari berlalu begitu saja. Lebaran tahun ini kurasakan biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi tidak setelah malam itu.
Malam tadi saat aku bertandang ke rumah sahabatku, aku bertemu kembali dengannya setelah lama kami tak bertemu. Dia gadis yang selama ini membuat jiwaku menggila adalah adik dari sahabatku. Setelah lelah seharian mencumbui panorama Dataran Dieng bersama kawan dan sahabatku, aku memutuskan untuk menginap di rumah sahabatku.
Saat ku sedang duduk di ruang tamu menikmati Novel yang aku temukan di meja kamar sahabatku, engkau datang. Menatapku dan melempar senyum manismu seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula aku merasa seperti baru saja menghisap kokain. Terbius dan kaku.
Malam itu kami sempat berdua saja di ruang tamu. Dia tampak sibuk dengan netbooknya berselancar di dunia maya. Sedang aku hanya bermain main dengan buku novel yang tidak jadi kubaca karena pikiranku tidak focus sama sekali. Aku hanya membolak balik halaman novel tak karuan. Dan sesekali mencuri pandang padamu. Karena kau berada di depanku dan aku selalu merasa seperti orang bodoh yang belaku tolol.
Aku hanya gelisah sendiri di tempatu duduk seperti kena ambeien. Sekali kali kucoba membaca novel tapi selalu gagal. Sesekali mencoba mengalihkan pandanganku ke beberapa foto keluarga yang terpampang di dinding. Namun mataku seolah tidak mau pindah darimu meski sekejap.
Ruang tamu terasa menyempit, menghimpitku dalam kegelisahan yang tak kau rasakan. Cahaya lampu di ruangan itu secara dramatis meredup. Dan aku terpana menatapmu.
Wajah manismu seakan menggodaku seraya berkata, “Hei, lelaki di sana, bukankah aku cantik? Tak inginkah kau mencumbuiku?”
Ujung mahkota hitam di kepalamu bergoyang goyang indah. “Hei kau, belalaiah aku dengan tangan kasarmu itu”
Hidungmu adalah hidung orang orang Parsi, mancung nan indah. “ Kecuplah aku wahai lelaki…”
Bibirmu yang selalu menciptakan senyum seindah bunga musim semi berkata “ Lumatlah aku wahai lelaki disana.”
Dan tubuhmu yang indah menggodaku agar aku memelukmu dalam.
Sedang matamu yang indah seakan mengajakku menyelami jiwamu yang entah sedalam apa.
Di mataku engkau begitu indah.
Ingin kusapa dirimu dan kita membicarakan apapun. Bercanda seperti sepasang burung bercanda tawa menyambut datangnya musim semi. Akan kuceritakan padamu tentang sekelumit hidupku. Dan aku ingin mendengar suaramu yang indah mengurai sedikit hidupmu.
Ingin pula kubercerita tentang bintang yang sedang bermesraan dengan rembulan di atas sana. Dan kau kan tersenyum lalu tertawa tawa kecil mendengar gurauanku yang memanjakanmu.
Lalu mengalunlah sebuah lagu dari Lionel Richie yang berjudul Hello. Dan sekali lagi secara dramatis hujan rintik rintik turun dengan anggunnya. Dan pada saat itu secepat kilat kurangkai puisi untukmu.
Apabila malam menitikkan gerimis
Itulah ketika malam terharu akan cinta
Saat angin malam berhembus
Adalah karena terhela sebuah nafas cinta
Rembulanpun enggan muncul
Karena ia sedang memadu kasih dengan gemintang
Dan tahukah engkau mengapa saat ini hatiku begitu senang?
Karena engkau, karena engkau di sampingku
Begitu dekatnya senyummu padaku
Wahai engkau yang membuatku membisu
Aku mencintaimu
Sungguh aku mencintaimu
Sungguh….
Namun semua tidak terjadi sama sekali. Aku tidak menyapamu, dan kita tidak bercanda mesra seperti sepasang burung yang bersuka cita menyambut musim semi. Tidak ada cerita tentang kita. Dan Lionel Richie pun tidak sudi menyanyi. Hujan gerimis romantis tidak turun sama sekali dan tentu saja tidak ada puisi puisi yang harus kurangkai secepat kilat itu.
Aku masih sibuk menenangkan tingkahku sendiri yang masih seperti orang bodoh yang berlaku tolol. Dan aku terlalu dungu untuk sekedar menyapamu.
Ah, batinku berkata, “Apa sebaiknya kukatakan saja sekarang, bahwa aku begitu memujanya, mencintainya dan hasratku tinggi untuk memilikinya?”
Bagaimana aku mengatakannya?
15 menit berlalu begitu saja. Lalu datanglah ayahmu dengan membawa lembaran kertas yang aku tak tahu apa isinya. Dan dia berdehem sebelum mendaratkan pantatnya di kursi tepat di sebelahmu.
Aduh..Om..kenapa cepat sekali om datang kemari. Dasar orang tua, selalu saja merusak suasana. Baru saja kunikmati wajahnya dari sini.
Gerimis mulai memperlihatkan polahnya. Semakin deras tetesan air mengundang hujan yang mulai menari nari di kegelapan. Tidak terdengar lagi suara kucing rebutan betina, mungkin keduanya sudah berdamai atau kucing satu mengalah karena si betina lebih memilih lawannya yang memiliki ikan asin hasil curian.
Kuhampiri radio yang mulai lelah menandungkan lagu-lagu malam. Si penyiar mengucapkan kata-kata perpisahan untuk malam itu. Dengan sedikit berpuisi lalu terdengarlah lagu Willingly menggiringku menutup malam menuju mimpi. Berharap kutemukan kau disana.
Uzee_Smrng_October_2011
Dari ruang kamarku yang sebelumnya adalah bagian dari ruang tamu yang sengaja disekat dengan papan, aku memandang keluar menembus kaca jendela. Sesekali korden berwarna biru yang entah sudah berapa lama tidak kucuci, manja dibelai angin yang berhembus masuk ke kamarku. Beradu dengan alunan lagu Sweetheartnya The Bee Gees yang bernyanyi dari mulut radioku. Ah, lagu yang indah.
Daun daun pohon rambutan yang terletak tepat di seberang kamarku terbuai oleh tetesan air gerimis, menari seiring buaian angin yang mencumbuinya.
Terdengar suara kucing yang sedang bertengkar memperebutkan betina barangkali, bersaing dengan suara radio butut yang selalu menjadi temanku disaat saat seperti ini.
Kualihkan pandanganku menuju jam di atas meja mungil di samping tempat tidur. Sudah jam 11 malam rupanya.
Ada sesuatu dalam pikiranku yang ganjil, gemar sekali mengganggu. Telah lama mengusik hari hariku. Seseorang yang dengan senyumnya yang selalu menari nari dan menggoda pikiranku. Dan malam ini begitu hebatnya perasaan ini menyerangku.
Suasana lebaran masih terasa malam ini. Empat hari berlalu begitu saja. Lebaran tahun ini kurasakan biasa saja seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi tidak setelah malam itu.
Malam tadi saat aku bertandang ke rumah sahabatku, aku bertemu kembali dengannya setelah lama kami tak bertemu. Dia gadis yang selama ini membuat jiwaku menggila adalah adik dari sahabatku. Setelah lelah seharian mencumbui panorama Dataran Dieng bersama kawan dan sahabatku, aku memutuskan untuk menginap di rumah sahabatku.
Saat ku sedang duduk di ruang tamu menikmati Novel yang aku temukan di meja kamar sahabatku, engkau datang. Menatapku dan melempar senyum manismu seperti biasanya. Dan seperti biasanya pula aku merasa seperti baru saja menghisap kokain. Terbius dan kaku.
Malam itu kami sempat berdua saja di ruang tamu. Dia tampak sibuk dengan netbooknya berselancar di dunia maya. Sedang aku hanya bermain main dengan buku novel yang tidak jadi kubaca karena pikiranku tidak focus sama sekali. Aku hanya membolak balik halaman novel tak karuan. Dan sesekali mencuri pandang padamu. Karena kau berada di depanku dan aku selalu merasa seperti orang bodoh yang belaku tolol.
Aku hanya gelisah sendiri di tempatu duduk seperti kena ambeien. Sekali kali kucoba membaca novel tapi selalu gagal. Sesekali mencoba mengalihkan pandanganku ke beberapa foto keluarga yang terpampang di dinding. Namun mataku seolah tidak mau pindah darimu meski sekejap.
Ruang tamu terasa menyempit, menghimpitku dalam kegelisahan yang tak kau rasakan. Cahaya lampu di ruangan itu secara dramatis meredup. Dan aku terpana menatapmu.
Wajah manismu seakan menggodaku seraya berkata, “Hei, lelaki di sana, bukankah aku cantik? Tak inginkah kau mencumbuiku?”
Ujung mahkota hitam di kepalamu bergoyang goyang indah. “Hei kau, belalaiah aku dengan tangan kasarmu itu”
Hidungmu adalah hidung orang orang Parsi, mancung nan indah. “ Kecuplah aku wahai lelaki…”
Bibirmu yang selalu menciptakan senyum seindah bunga musim semi berkata “ Lumatlah aku wahai lelaki disana.”
Dan tubuhmu yang indah menggodaku agar aku memelukmu dalam.
Sedang matamu yang indah seakan mengajakku menyelami jiwamu yang entah sedalam apa.
Di mataku engkau begitu indah.
Ingin kusapa dirimu dan kita membicarakan apapun. Bercanda seperti sepasang burung bercanda tawa menyambut datangnya musim semi. Akan kuceritakan padamu tentang sekelumit hidupku. Dan aku ingin mendengar suaramu yang indah mengurai sedikit hidupmu.
Ingin pula kubercerita tentang bintang yang sedang bermesraan dengan rembulan di atas sana. Dan kau kan tersenyum lalu tertawa tawa kecil mendengar gurauanku yang memanjakanmu.
Lalu mengalunlah sebuah lagu dari Lionel Richie yang berjudul Hello. Dan sekali lagi secara dramatis hujan rintik rintik turun dengan anggunnya. Dan pada saat itu secepat kilat kurangkai puisi untukmu.
Apabila malam menitikkan gerimis
Itulah ketika malam terharu akan cinta
Saat angin malam berhembus
Adalah karena terhela sebuah nafas cinta
Rembulanpun enggan muncul
Karena ia sedang memadu kasih dengan gemintang
Dan tahukah engkau mengapa saat ini hatiku begitu senang?
Karena engkau, karena engkau di sampingku
Begitu dekatnya senyummu padaku
Wahai engkau yang membuatku membisu
Aku mencintaimu
Sungguh aku mencintaimu
Sungguh….
Namun semua tidak terjadi sama sekali. Aku tidak menyapamu, dan kita tidak bercanda mesra seperti sepasang burung yang bersuka cita menyambut musim semi. Tidak ada cerita tentang kita. Dan Lionel Richie pun tidak sudi menyanyi. Hujan gerimis romantis tidak turun sama sekali dan tentu saja tidak ada puisi puisi yang harus kurangkai secepat kilat itu.
Aku masih sibuk menenangkan tingkahku sendiri yang masih seperti orang bodoh yang berlaku tolol. Dan aku terlalu dungu untuk sekedar menyapamu.
Ah, batinku berkata, “Apa sebaiknya kukatakan saja sekarang, bahwa aku begitu memujanya, mencintainya dan hasratku tinggi untuk memilikinya?”
Bagaimana aku mengatakannya?
15 menit berlalu begitu saja. Lalu datanglah ayahmu dengan membawa lembaran kertas yang aku tak tahu apa isinya. Dan dia berdehem sebelum mendaratkan pantatnya di kursi tepat di sebelahmu.
Aduh..Om..kenapa cepat sekali om datang kemari. Dasar orang tua, selalu saja merusak suasana. Baru saja kunikmati wajahnya dari sini.
Gerimis mulai memperlihatkan polahnya. Semakin deras tetesan air mengundang hujan yang mulai menari nari di kegelapan. Tidak terdengar lagi suara kucing rebutan betina, mungkin keduanya sudah berdamai atau kucing satu mengalah karena si betina lebih memilih lawannya yang memiliki ikan asin hasil curian.
Kuhampiri radio yang mulai lelah menandungkan lagu-lagu malam. Si penyiar mengucapkan kata-kata perpisahan untuk malam itu. Dengan sedikit berpuisi lalu terdengarlah lagu Willingly menggiringku menutup malam menuju mimpi. Berharap kutemukan kau disana.
Uzee_Smrng_October_2011
Komentar
Posting Komentar