Satu Sisi


Mengagungkan cinta yang tak pernah kumengerti adalah penderitaan yang tak pernah kutahu ujungnya. Cinta yang kurasakan ibarat hanya satu sisi mata uang. Karena satu sisi yang kudambakan itu tak pernah mau menggubrisnya.  Satu sisi kepingan itu tak sudi. Kupikir.
            Timpang.
            Mungkin ibarat aku seperti uang logam 500 rupiah, sedang dia adalah sebuah mata koin emas berharga ratusan juta.
Ingin aku pada suatu waktu, berdiri di depannya menatap matanya dan dia menatap mataku. Dalam bayanganku dia tersenyum manis seperti biasanya. Dengan kemantapan hati kukatakan semuanya. Bahwa aku sungguh mencintainya.
            Berat hatiku jika seandainya dia benar-benar menampikku. Ah, aku tak tahu harus bagaimana. Kadang aku kuatir dan takut kehilangannya. Seseorang yang tak pernah kumiliki.
            Senyuman dan  tatapan matanya selalu saja bisa membiusku. Setiap kali kami bertemu, aku tak berkutik dan dia selalu tersenyum padaku dengan tatapan yang selalu mempecundangiku. Aku tak tahu makna dibalik senyum dan tatapan matanya. Yang kutahu, itu sangat menyenangkan dan membuatku mabuk, seperti alcohol 100%. Sedikit namun luar biasa memabukkan
            Setelah itu aku selalu diamuk rindu. Saat berada di dekatnya, aku tak bisa berbuat apa-apa. Namun saat kami jauh, ah aku benar-benar merindukannya. Dan aku kadang memaki diriku sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa saat di dekatnya.
Mungkin aku terlalu percaya diri akan dia. Dia membuat berjuta rasa menyerang seluruh sel-sel dalam tubuhku. Otakku dikuasainya. Sungguh tiada yang lain hanya dirinya.
Mengagumkan! Dia membuatku bahagia meski semu, membuatku kuatir, takut kehilangan, merasakan rindu yang menggebu, gelisah karena ingin memeluknya, ingin bersamanya, sekaligus sakit karena dia tak bisa kumiliki.
Hal yang membuatku merasa tolol adalah bahwa sampai detik ini aku belum pernah secara langsung mengungkapkan isi hatiku padanya. Hanya kukirimkan sms puisi puisi yang berisi semua rasa yang kurasakan padanya. Dan parahnya dia bilang dia tidak mudeng dengan semua smsku itu. Dan dia tidak menyukainya. Dan akupun berhenti mengirim sms puisi puisi lagi.
Lalu kucoba sms dia dan menelponnya, namun dia sama sekali tidak merespon. Ah, aku bingung mesti bagaimana lagi.
Saat ini yang ingin kulakukan adalah mengungkapkan perasaanku padanya secara langsung di depan hidungnya. Perasaan yang bertahun-tahun kusimpan dalam hati. Bertahun-tahun dan menjadi seperti penyakit kronis yang tak mungkin lagi disembuhkan. Ini yang kusebut terserang cinta dengan tingkat keparahan stadium 4B!
Aku tak sanggup lagi menahan semua ini. Aku harus menemuinya, di sebuah ruang dan waktu yang indah. Kubukakan  padanya semua rahasiaku padanya. Meskipun dia muak, dan bahkan muntah mendengarnya. Aku tidak peduli, meskipun hatiku kan hancur nantinya sekalipun, aku tak peduli.
Bila kukatakan padamu
Sebuah kebekuan yang lama membisu
Lalu bila kau memeluknya
Bila aku terbang, biarkan kuterbang

Bila kukatakan padamu
Lalu kaupun muak, dan kau campakkan
Biar aku hancur, biarkan hancur
Agar kau puas meremukkanku

Tapi beri aku waktumu
Lalu ijinkanlah aku bicara
Kan ku ungkapkan
Kebekuanku
Karenamu

            Saat aku bertemu dengan wanita lain, dan dia sedikit membuatku tertarik. Namun bayangannya selalu mampu membuatku mengurungkan niatku untuk berpaling darinya. Sungguh berat cintaku padanya. Aku benar-benar telah takluk olehnya.
            Kau, hanya kau. Ya, hanya kau wanita yang kuingikan. Hanya kau.
Kadang hati kecilku bicara bahwa cintaku bakal bertepuk sebelah tangan, namun sisi lain dari diriku menolak itu semua. Sisi lain itu tidak mau peduli sebelum aku mengungkapkan isi hatiku di depan matanya dan dari mulutnya dia menolakku atau menerimaku, aku belum akan menyerah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil