Trimbil


Deretan kursi panjang terbuat dari kayu jati berjajar menghadap loket pengambilan resep obat dokter. Tampak tidak begitu ramai hari itu. Orang-orang tampak tidak begitu bergairah. bagaimana tidak, di tempat itu, deretan kursi panjang itu adalah deretan harapan dan kecemasan. Harapan untuk kesembuhan dan kesehatan mereka yang sakit dan sekaligus kecemasan bagi mereka yang miskin dan papa.
Di antara mereka yang dilanda harapan dan kecemasan itu, Trimbil laki-laki kecil yang belum tamat SMP tampak duduk termenung. Menatap jam dinding yang terletak di atas loket. Tatapannya nanar, jarum jam yang selalu menari tak peduli seolah waktu tengah mempermainkannya habis-habisan. Dan Trimbilpun juga tak peduli. Tubuhnya kurus legam dan rambut keriting yang berwarna kemerahan tak terawat tampak seenaknya sendiri menjuntai kesana kemari tak karuan. Di wajahnya yang tirus, tergambar beban dan cambukan kehidupan yang ia tanggung.
Pakaian pramuka yang sudah lusuh melekat di badannya. Seharusnya hari ini ia harus masuk sekolah. Tapi karena ibunya tergeletak tak berdaya di rumah mereka yang mungil karena sakit, memaksanya membolos hari ini. Sudah tiga hari ini ibunya sakit keras. Dan hanya sehari Ibunya dirawat di rumah sakit. Karena tiadanya biaya maka terpaksa Ibunya harus ia rawat sendiri di rumah.
Sudah hampir 2 tahun ini ia harus ikut menanggung perut ibu dan adiknya setelah ayahnya masuk bui gara-gara membunuh seorang PSK yang baru saja melayaninya. Setiap hari ia sudah harus bangun sebelum adzan subuh berkumandang untuk membantu ibunya menyiapkan dagangan. Lalu setelah itu ia bergegas mengayuh sepedanya sejauh 5 kilometer untuk mengambil Koran pagi yang harus ia sebarkan kepada pelanggan di sebuah kompleks perumahan tak jauh dari rumahnya.
Saat ini Trimbil sudah duduk di kelas tiga SMP dan beberapa minggu ke depan ia harus dihadapkan pada ujian nasioal. Trimbil termasuk anak yang rajin sebenarnya. Dan berkali-kali ia masuk rangking lima besar di sekolahnya. Dulu waktu pertama kali masuk SMP pada saat sesi perkenalan, ia bercerita dengan semangat bahwa ia ingin sekali menjadi seorang dokter. Mimpi-mimpinya sangat tinggi. Tetapi kini ia sudah tidak bersemangat lagi menggapainya. Membayangkannya saja ia enggan. Cita-citanya yang setinggi langit itu hanya menggantung jauh di langit. Hanya tinggal sisa-sisa saja yang kadang-kadang mengganggu tidurnya.

**********************

Sudah hampir dua minggu kondisi Ibunya tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Bahkan semakin parah. Ia menjadi sering sekali bolos sekolah. Ia memilih untuk menggantikan Ibunya mencari nafkah dengan cara apa saja. Sedangkan adik perempuannya juga terpaksa berhenti sekolah untuk menjaga Ibu di rumah.
Selain tetap menjadi loper Koran di pagi hari, kadang ia mengamen, joki angkot, sampai pedagang asongan. Tetapi ia pantang mengemis. Ibunya selalu bilang padanya bahwa mengemis itu tidak baik.
Sinar fajar menyingsing membangunkan dunia. Diiringi kokok ayam berkoar bertalu-talu mengabarkan hari baru telah dimulai. Namun sang fajar harus rela berbagi dengan gerimis yang turun rintik-rintik pagi itu. Lamat lamat awan hitam tipis menyelimuti lembayung pagi. Daun-daun menggigil dingin. Meneteskan butiran air hujan berpadu dengan embun.
“Kita harus membawa Ibumu ke rumah sakit.” Kata Pak Atang cemas.
Pak Atang adalah ketua RT di mana Trimbil tinggal.
Beberapa kali Ibunya batuk dan mengeluarkan darah. Trimbil sangat cemas dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia takut. Di sebuah ranjang kecil dalam kamar berukuran 4 x 3 meter, ia duduk di samping Ibunya sambil memegang kain penuh bercak darah. Sementara adiknya menangis memanggil-manggil sambil memeluk Ibunya.
“Trimbil, kita harus segera membawa Ibumu ke rumah sakit.”
Trimbil mengangguk pelan. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana.
Dengan dibantu beberapa tetangga akhirnya Trimbil membawa Ibunya ke rumah sakit.
Di lorong rumah sakit, ia duduk di sebuah kursi panjang. Adiknya tertidur di sebelahnya. Sementara ia hanya termangu. Selembar kertas hasil pemeriksaan tergenggam di tangannya. Ia tidak mengerti dengan coretan-coretan di kertas itu. Namun kata Pak Atang, Ibunya harus segera di operasi.
Operasi. Berulang-ulang kata itu berputar-putar di kepalanya. Baginya, operasi adalah sesuatu yang mahal dan berarti uang berjuta-juta rupiah.
Dulu ia pernah tahu seorang tetangganya yang menderita penyakit dan harus dioperasi. Kata Ibu, biayanya puluhan juta rupiah. Dan kini ia harus dihadapkan pada kenyataan pahit itu. Ia tidak tahu darimana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu.
Ia merasa sepi. Sendirian menanggung semua ini. Semuanya seakan menjauh darinya. Kini waktu benar-benar tak berpihak padanya. Lalu lalang orang-orang di depannya tidak ada yang peduli sama sekali. Tanaman dan rumput di taman rumah sakit juga tak peduli. Lampu-lampu menyala tak peduli. Dan senja yang beranjak pergi pun tak peduli.
Bayangan Ibunya yang kesakitan menguasai pikirannya. Suara rintihan Ibunya serasa terdengar di kepalanya. Ia memejamkan matanya. Dengan segenap keyakinan yang dengan susah payah ia hadirkan dalam dirinya, ia berusaha untuk tegar. Titik bening memaksa leleh di sudut matanya.

***********************

Mendung menggelayut manja di langit sore itu setelah lelah memuntahkan hujan. Hujan baru saja reda menyisakan dingin. Di pinggir sebuah sungai kecil yang keruh mengalir deras tampak ramai orang-orang berkumpul mengerubungi sesosok mayat anak laki-laki kecil. Sumpah serapah keluar dari beberapa mulut, ada yang terdiam ada yang bertanya-tanya. Dua orang petugas Polisi terlihat memeriksa mayat itu sambil sekali kali mencatat keterangan dari orang-orang di sana.
Sesosok mayat laki-laki kecil itu basah kuyup. Dingin dan kaku. Sebuah tas berwarna merah hati erat di genggaman tangannya.

**************************

Beberapa waktu sebelumnya, Trimbil mengamen di pasar tempat ia biasa mengamen. Saat duduk di sebuah los kosong, pandangannya terpaku pada seorang Ibu yang sedang berbelanja. Ia memperhatikan sebuah tas merah hati yang dibawa oleh Ibu itu. Sebuah pergolakan berkecamuk di pikirannya.
Dengan ragu-ragu ia mendekati orang itu. Lalu dengan cepat ia menyambar tas Ibu itu dan segera berlari keluar pasar.
Ia terus berlari. Tak peduli. Bayangan ibunya yang sekarat di rumah sakit menjelma di pikiranya. Teriakan-teriakan “jambret, maling, copet” besahut-sahutan tertuju padanya. Beberapa orang laki-laki tampak beringas mengejar di belakangnya. Ia tak peduli. Trimbil terus berlari.
Akhirnya ia berhasil keluar dari pasar, sementara orang-orang terus saja mengejarnya dengan beringas.
Trimbil sampai di sebuah sungai kecil. Ia lelah. Kaki kecilnya sudah tak bisa lagi ia paksakan untuk berlari. Nafasnya naik turun tak karuan. Wajahnya pucat. Sementara orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Hanya berjarak beberapa meter saja darinya. Teriakan-teriakan berdengung di telinganya. Menciutkan nyalinya.
“Bunuh!!!! Bakar hidup-hidup!!!...Bunuh saja!!! Maling kecil asu!!!...”
Trimbil berusaha terus berlari. Namun naas. Kaki kecilnya terpeleset dan Trimbil tidak bisa menguasai tubuhnya. Tubuh kecil Trimbil terjatuh ke dalam sungai kecil berarus deras itu. Ia tertelan arus deras yang berwarna kecoklatan. Tas yang ia curi masih di genggamnya. Timbul tenggelam bersama tubuhnya yang kecil. Tak berdaya. Bayangan dan suara rintihan Ibunya berputar-putar di kepalanya. Lalu adiknya. Kemudian ayahnya. Hingga semuanya gelap, samar dan hilang. Dalam sunyi sisa hidupnya ia berucap, “ Ibu…”


Uzee_Smrng 110611

Komentar

Postingan populer dari blog ini