Koran
Pagi cerah merangsek mengirimkan seberkas sinarnya melalui sela-sela jendela. Kupicingkan mataku ke arah jam di atas meja kamarku. Ah, ternyata sudah jam 6 pagi. Kupaksakan tubuhku untuk bangkit dari ranjangku. Rasa kantuk masih terasa berat menggantung di mataku. Kusadari istriku sudah tak lagi di tempat tidur Melawan rasa kantuk sambil sesekali menguap aku berjalan keluar dari kamarku menuju ruang tamu, lalu ke depan rumah.
Di teras rumahku yang mungil kuregangkan kedua tanganku menyambut pagi sambil sekali kali mulutku menghempaskan sisa-sisa kantukku. Gunung sindoro sumbing tampak gagah menjadi landscape di depan rumahku setiap hari. Samar terdengar langkah kecil dari dalam rumah. Istriku datang membawa secangkir kopi panas kemudian diletakkan di meja teras.
“Ini kopinya mas.”
Aku berbalik mendapati istriku sedang meletakkan secangkir kopi di atas meja. Ah, betapa cantiknya perempuan ini. Meski baru bangun tidurpun dia terlihat cantik. Aku sungguh merasa sangat beruntung bisa memilikinya. Aku pandangi wajahnya.
“Hei, kok pagi-pagi ngelamun sih..Kopinya ntar dingin lo..” kata istriku membuyarkan sejenak lamunanku.
“Ah, ya…hahaha..” Segera ku ambil secangkir kopi itu sambil melihat istriku berlalu dari hadapanku melanjutkan kesibukannya. Kuseruput kopi manis buatan istriku. Ah, nikmat sekali.
Lalu kurebahkan tubuhku di kursi malas dan ku ambil koran pagi langgananku. Halaman pertama head line memuat berita tentang koruptor yang minggat ke luar negeri sementara pemerintah kebingungan mencarinya.
Lalu tentang kisruh PSSI yang tak kunjung ketemu ujungnya. Seperti benang kusut yang semakin kusut saja persepakbolaan negeri ini.
Seingatku tidak ada lagi headline surat kabar yang membanggakan setelah kemenangan tim Indonesia di Piala Thomas beberapa tahun silam.
Mataku terus menggerayangi headline koran tersebut. Dadaku terhenyak oleh sebuah berita. Mataku terpaku nanar tak percaya. Di halaman utama sebelah kiri bawah tertulis tentang seorang wanita cantik ditemukan tewas bunuh diri di sebuah apartemen. Lara. Nama wanita malang itu. Lara. Fotonya terpampang jelas di sana. Sebuah wajah yang sangat tidak asing bagiku. Sebuah nama yang pernah mengisi lembaran-lembaran hidupku. Kemudian aku membolak-balik halaman koran mencari sambungan berita itu. Ah, ini benar-benar dia.
Pikiranku melayang-layang tak karuan. Denyut jantungku berdebar tak beraturan. Kuseruput kopi yang mulai dingin. Rasa kopi yang tadinya manis kini terasa pahit.
*****************************
Jogja, 2008
Senja merona jingga menggelanyut manja di langit kota Jogja. Tampak lalu lalang orang-orang meramaikan jalanan. Pedagang-pedagang lesehan mulai bersiap-siap menggelar dagangannya. Tampak pedagang wedang ronde berjalan mendorong gerobak menempati posnya. Muda-mudi tampak makin ramai saja duduk-duduk di pinggir jalan. Tampak dua orang turis asing sedang menikmati senja menaiki andong sambil bersenda gurau dengan beberapa tas belanjaan di tangannya.
Di depan benteng Vredeburg seorang model cantik memasang gaya sesuai instruksi yang kuberikan padanya. Wajahnya yang cantik menari-nari di depan kokohnya bangunan peninggalan Belanda itu. Seakan sedang menggoda kepongahan sebuah kekuatan yang tak tergusur.
Hidungnya mancung sangat serasi dengan senyum yang bisa merontokkan hati laki-laki manapun. Rambut hitam lurus terurai di bahunya.
Jepret..jepret…kuarahkan lensa kameraku padanya berulang-ulang. Sudah puluhan mungkin ratusan jepretan kamera kuarahkan padanya. Sampai puas kutelanjangi setiap lekuk-lekuk tubuhnya dengan kameraku.
Lara namanya. Berasal dari kata Larasati. Gadis asli Jogja. Dari pemotretan inilah aku mengenalnya. Di sela-sela pemotretan aku mengajaknya ngobrol sekedar basa basi. Dan ternyata orangnya enak diajak ngobrol. Tipe cewek yang supel dan smart. Dari sini pula kuketahui bahwa dia adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas ternama di Jogja. Lalu kami saling tukar nomor ponsel yang menjadi awal bagi kelanjutan hubungan kami.
Senja berarak pulang digantikan malam yang cerah. Semakin malam sepanjang jalanan Malioboro bukannya sepi tapi malah semakin ramai. Malam seakan membangkitkan sebuah energi baru buat kota Jogja. Lampu-lampu jalan tampak bersiap menggantikan sinar matahari.
Setelah pertemuan itu kami sering jalan-jalan berdua menikmati suasana malam kota Jogja. Malam adalah dunia kami berdua, seakan tidak ada orang lain di malam hari selain kami berdua. Menikmati wedang ronde di bunderan kampus UGM, angkringan di alun-alun utara, jajanan di sepanjang Malioboro dan berakhir di sebuah kamar hotel.
Hal yang kusukai darinya adalah ia sama sekali tidak risih saat kuajak makan di angkringan. Dia malah bilang bahwa dia suka dengan suasana di gerobak makanan kecil itu. Merakyat dan asyik, begitu celotehnya sambil menikmati nasi kucing.
Suatu senja aku mengajaknya ke pantai parangtritis. Kami sengaja memilih sebuah bibir pantai yang tampak sepi dari orang-orang. Hanya kami berdua, pasir, langit senja dan deburan ombak yang kadang menyapu kaki kami.
Kami rebahkan tubuh kami beralaskan pasir, menengadahkan wajah menyapu langit. Kulihat wajahnya damai, matanya terpejam seperti sedang tenggelam dalam alunan pantai.
“Kau lihat langit senja di atas sana? Aku ingin menjadi senja.” katanya.
“Senja begitu indah, damai dan tenang disana. Bisa melihat pantai yang indah dan lautan luas.” katanya menambahkan.
“Aku lebih suka menjadi malam.” jawabku.
“Sunyi, penuh misteri. Aku ingin menjelajahi malam. Aku ingin selami malam. Bagiku malam menyimpan kerinduan yang tak terkatakan.”
“Haha…aku juga menyukai malam..” dia menimpali.
“Sejak aku bersamamu…” katanya lagi dengan tatapan manja. Lalu dia mendaratkan ciuman di bibirku. Aku membalas menciumnya.
“Mengapa kau mau denganku padahal kau tahu aku sudah beristri?”
“Aku tidak peduli sama sekali. Istrimu jauh di sana. Di rumahmu, kau milik istrimu, tapi di sini kau adalah milikku.” jawabnya santai.
“Kaupun tahu kalau aku adalah wanita simpanan orang lain juga, tapi kau juga mau denganku?” katanya lagi.
Kami berdua sudah tahu posisi masing-masing. Suatu hari selesai bercinta di sebuah hotel, kami saling mengungkapkan hidup masing-masing. Semuanya mengalir deras. Namun jujur. Meski menyakitkan.
Lara tahu kalau aku sudah beristri namun belum punya momongan. Dan aku tahu bahwa ia adalah wanita simpanan seorang pejabat yang memiliki kekuasaan. Kadang-kadang ia merasa hidupnya seperti tak berarti. Pejabat itu suka sekali menyiksanya. Dia hanya menjadikannya budak nafsu kebinatangannya. Dan Lara sama sekali tak bisa apa-apa karena sangat sulit untuk lepas dari genggaman laki-laki itu.
“Aku tak tahu. Aku seperti tak bisa menolakmu. Kau seperti batu magnet. Sedangkan aku hanyalah butiran-butiran besi dalam sekumpulan pasir. Tak berdaya.”
“Hahaha…dasar laki-laki. Pandai sekali mengobral rayuan…”
Langit mulai gelap. Kami memutuskan untuk berjalan menyusuri bibir pantai. Angin berhembus menerpa kami berdua. Hingga kami sampai di sebuah lapak yang menjual masakan laut. Lapak yang tidak begitu luas, dengan beberapa meja lesehan. Tampak beberapa pasangan anak muda sedang berkumpul menikmati sajian sambil bersenda gurau satu sama lain.
Setelah puas menikmati masakan seafood kami beranjak pulang ke kota. Dengan motor CB-ku kami menembus malam menyusuri jalan Parangtritis menuju kota Jogja. Deru motorku memecah jalanan. Setelah kurang lebih satu jam berkendara kami akhirnya sampai di depan kos Lara.
Sebelum Lara masuk ke kosnya ia memelukku. Lama. Lalu ia melepaskan pelukannya.
“Met malam…Aku pergi dulu.” kataku.
“Ya..hati-hati..” balasnya dengan sebuah kecupan mesra di pipiku.
Kupacu motorku pergi dari hadapannya menuju tempat kosku.
*************************
Malam semakin jauh. Bintang-bintang tampak menghiasi langit kota Jogja. Waktu berlari, aku lihat jam tanganku sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Gang masuk ke kosku sudah terlihat. Jalanan tampak sepi.
Tiba-tiba sebuah mobil menyeruduk dari belakang menyerempet motorku.
Grussaakkk…aku terjatuh tidak dapat mengendalikan motorku. Motorku menindih badanku yang pegal-pegal, sakit tak karuan.
Sambil menahan sakit aku mencari-cari bajingan mana yang menyerempetku. Dan ternyata aku tidak kesulitan untuk menemukan bajingan itu karena beberapa orang telah berdiri di dekatku. Salah satu dari mereka yang berbadan cukup besar mengangkat motorku dan mencampakkannya begitu saja ke samping dengan kasar.
Lalu dua orang lainnya mengangkat tubuhku kasar. Belum hilang kebingunganku, sebuah tinju mendarat di wajahku. Belum sempat aku mengumpat bertubi-tubi bogem dan tendangan mendarat di segenap tubuhku.
Aku babak belur. Salah seorang dari mereka mengancamku.
“Hei bajingan tengik..Jauhi Laras mulai detik ini juga!!! Awas kalau kau dekati dia lagi. Tak bunuh kowe!!!!”
Satu bogem lagi mendarat di wajahku sebelum mereka pergi. Aku tergeletak tak berdaya. Tubuhku terasa sakit di sana sini. Darah mengalir dari lubang hidung dan mulutku. Kudengar deru mobil pergi menjauh sebelum aku tak sadarkan diri.
***********************
Kuhela nafas mengingat semua peristiwa dulu. Pikiranku melayang, betapa pedih nasibmu Lara.
Setelah kejadian malam itu aku kehilangan kontak dengan Lara. Aku dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Kucoba menghubungi nomor handphone Lara, tetapi nomornya sudah tidak aktif. Kudatangi tempat kosnya ternyata dia sudah pindah dan teman-temannya tidak ada yang tahu dia pindah kemana. Kutelusuri kota Jogja tetapi tak juga kutemukan.
Kami berpisah tanpa ucapan perpisahan sama sekali. Dia menghilang begitu saja. Dan di tanganku kini, setelah hampir tiga tahun berlalu, sebuah berita yang mengejutkan tentangnya.
“Mas, kamu kenapa koq melamun saja dari tadi..?” tangan istriku menyentuh pundakku mengagetkanku.
“Ah, tidak…tidak apa-apa. Lihat ini, berita tentang seorang wanita yang meninggal bunuh diri. Aku hanya kasihan dengan wanita malang ini.” jawabku sekenanya sambil menyerahkan koran yang aku baca pada istriku. Mencoba menyembunyikan raut wajahku.
“Oh, kasihan ya mas wanita ini. Fotonya cantik sekali.” Kata istriku mengomentari sambil menempatkan dirinya duduk di sampingku.
Setelah itu dia membolak balik koran mencari rubrik khusus wanita kesukaannya.
Kupandangi wajah istriku, wajahnya teduh, cantik dan sederhana. Aku merasa sangat bersalah padanya. Tak bisa kubayangkan jika ia tahu bahwa wanita yang ada di berita koran itu adalah selingkuhanku dulu sewaktu aku bertugas di Jogja.
Aku kembali terbayang saat-saat indah bersama istriku dulu sewaktu kami masih pacaran. Kemudian saat aku melamarnya di sebuah café di kotaku. Aku sangat mencintai wanita ini.
Aku alihkan pandanganku ke langit. Di bawahnya, gunung sindoro sumbing tampak menggeliat menghangat tersiram cahaya matahari. Kuseruput kopi yang telah dingin. Manis dan pahit terasa menjadi satu.
Uzee_Smrng_200611
Komentar
Posting Komentar