Untuk Ayah
Memaksakan diri pulang dari Semarang ke Wonosobo jam 10 malam sendirian mengendarai motor adalah sebuah keputusan yang kurang bijak. Maka aku memutuskan untuk sedikit bijak demi keamanan, transit sebentar di Ambarawa di tempat kakak keponakanku. Aku menginap dulu di sana. Sebuah ruko yang dibuat tempat bimbingan belajar. Setelah pagi merekah, aku kemudian melajutkan perjalaanku.
Matahari belum lama membangunkan isi dunia. Kutelusuri jalan menuju kota kelahiranku dengan sepeda motorku. Menembus pagi yang menyisakan udara dingin berkabut. Hawa dingin mencoba menelisik melalui sela – sela jaketku. Di sebelah kiriku terlihat jelas menjulang memonopoli pandangan. Adalah gunung sumbing yang perkasa lalu di sebelah kananku adalah gunung sindoro yang begitu anggun. Mereka begitu jumawa mengapit jalan antar kota itu.
Begitu menakjubkan. Di kakinya, ladang – ladang tembakau bersanding dengan perkebunan teh yang menghijau siap untuk dipetik. Embun pagi terlihat menyelimuti dahan – dahan dan dedaunan. Membuat siapa saja sejenak mampu melepaskan semua beban hidup yang menindih, melupakan sejenak hidup yang tak berpihak padanya. Sungguh pagi yang menakjubkan di kaki sindoro sumbing. Dengan aroma khas yang begitu mendamaikan.
Rumah-rumah penduduk mulai menggeliat melanjutkan hidup. Di dalamnya para penghuni rumah telah terbangun dari mimpi yang membuai, kembali menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya.
Orang-orang dengan gairahnya memulai hari pergi menuju ladang-ladangnya dengan memikul dua buah keranjang yang berisi arit dan cangkul di pundaknya. Dengan sarung yang dipakai dibadannya menyerupai jubah. Terselip sebatang rokok lintingan di jarinya yang sesekali mendarat di sela sela bibir. Kemudian kepulan asap putih berhamburan keluar dari hidungnya. Udara dingin tidak mempengaruhi aktifitas mereka. Tentu saja karena mereka sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti ini.
Anak-anak sekolah berjalan dan ada yang berlarian sambil bergurau menuju mulut sebuah jalan kecil yang menghubungkan desa mereka dengan jalan raya. Di mulut jalan itu seorang kernet mikrobus terlihat bersemangat berkoar-koar agar mereka segera menaiki mikrobus yang sudah setengah penuh itu. Dengan memakai semacam penutup kepala dan kain sarung yang dilingkarkan di lehernya. Sementara sang sopir terlihat menghisap rokok sambil memandang arah depan. Sesekali ia mengecek dengan memandang ke dalam melalui kaca spion di bagian depan kendaraan yang menjadi penyambung nyawanya itu. Memastikan penuh atau tidaknya penumpang pagi ini. Sesekali asap putih keluar dari hidungnya. Asap rokok bercampur dengan uap air yang keluar dari mulut dan kedua lubang hidungnya.
Jalanan berkelok kelok dan menurun tajam berpadu dengan kabut tipis. Aku menuju rumah orangtuaku di Wonosobo. Pulang. Di kota kecil nan sejuk ini aku dilahirkan dan dibesarkan. Dua bulan lebih aku tidak pulang dari Semarang, kota dimana aku mengadu nasib.
Sepanjang perjalanan itu sesekali aku melewati bagian-bagian yang menjadi kepingan masa laluku. Sebuah SMA yang dulu menjadi tempatku menjalani masa remajaku dengan sahabat-sahabatku. Sejenak sengaja kupandang agak lama, sekilas senyum mengembang dibibirku, sebersit kerinduan terlukis di sana. Hingga bangunan itu telah berada jauh kutinggalkan.
Tak berapa lama, akhirnya aku sampai di rumah. Di sebuah desa di sebelah tenggara kota Wonosobo. Deru motor memanggil kedua adikku yang masih kecil berhamburan keluar. Adikku yang paling kecil baru saja akan masuk SD tahun ini. Sedangkan kakaknya naik kelas 3 SD.
Lalu aku masuk ke rumah. Di dalamnya kulihat lelaki yang di wajahnya terbias beban yang amat dalam. Kerutan-kerutan diwajahnya semakin jelas terlihat. Tubuhnya semakin renta dimakan usia. Rambut yang didominasi warna putih tertanam di batok kepala dengan jidat yang keras. Terbaca di sana berbagai macam beban pikiran yang terbenam dalam.
Ah, ayah….kau terlihat semakin tua. Ringkih dan tak berdaya. Namun kau selalu memaksakan tubuhmu itu. Melawan guratan-guratan umur yang tak bisa dilawan. Dengan tenaga yang tersisa dalam tubuhmu, kau terus berjuang memenuhi tuntutan hidup yang kau tanggung.
Setiap aku memandangnya, ada sekelumit sesal mendesak di rongga dadaku. Ayahku dulu, berusaha mati-matian menguliahkanku ke Jogja. Ayahku yang selalu optimis memandang hidup. Dengan segala keterbatasannya dia mengeluarkan semua keringat di tubuhnya, tanpa pernah mengeluh. Tapi sayang, aku memupus semua harapannya. Aku drop out dari kuliah.
Aku tidak bisa memenuhi harapannya. Sebagai anak pertama, aku seharusnya menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Dan aku bisa mendapat pekerjaan yang layak agar aku bisa meringankan beban orangtuaku.
Ah, ayah…aku ingin sekali memeluk tubuhmu yang semakin renta, bersujud di kakimu. Sungguh, aku ingin memohon maafmu. Aku belum bisa menjadi anak yang bisa kau banggakan.
Delapan tahun yang lalu, dengan harapan yang besar dari ayah, aku melanjutkan studiku di sebuah universitas negeri di kota gudeg. Dengan menjual beberapa petak tanah warisan sebagai modal studiku di Jogja. Dan delapan tahun sungguh waktu yang teramat singkat.
Sungguh sangat sulit dibayangkan bagaimana usaha ayah untuk membiayai kuliah dan hidupku di jogja. Sedangkan ayah juga masih harus memikirkan sekolah adik-adikku. Entah berapa banyak peluh dan keringat serta airmata yang ayah korbankan untukku.
Ayah selalu mengajariku untuk menjadi orang yang kuat dan selalu bersikap optimis.
“Hidup itu keras, hidup adalah perjuangan,” katanya suatu kali.
“Kau harus menjadi laki-laki yang kuat dan pantang menyerah.”
Dan ayahku selalu mengulanginya lagi dalam setiap perbincangan kami.
Lelaki itu begitu kuat dimataku.
Pada waktu aku masih kecil ayahku bekerja di Jakarta. Tetapi krisis ekonomi yang melanda bangsa ini, ayahku terpaksa di PHK oleh pihak perusahaan. Ayahku terusir, ayahku terkhianati. Setelah itu kehidupan ekonomi keluargaku terombang-ambing.
Pernah saat aku baru lulus SMP, nenekku mengingatkan ayah agar aku tidak usah melanjutkan sekolah. “Sekolah nganggo duite sopo?” kata nenekku.
Tetapi ayahku menjawab dengan tegas bahwa bagaimanapun caranya ia ingin menyekolahkanku setinggi-tingginya, paling tidak melebihi ayahku.
Namun, mimpimu untuk melihatku memakai jubah toga pupus begitu saja.
Cuaca begitu cerah siang ini. Langit di atas rumahku membiru bersanding dengan awan putih berserakan. Angin sesekali berhembus menggoyang dahan pohon rambutan di depan rumahku. Daun-daunnya bergesekan bergemerisik melantunkan lagu alam. Ah tenangnya suasana seperti ini. Sangat jauh berbeda dengan hiruk pikuk di kota besar.
Sore hari aku jalan-jalan di kota Wonosobo dengan sahabatku. Setelah berkeliling sebentar kami putuskan untuk duduk-duduk di Alun-alun kota. Hawa sejuk terasa semilir di Alun-alun yang dikelilingi oleh pohon-pohon beringin yang entah sudah berapa puluh tahun berdiri kokoh di sana. Suasana seperti biasa begitu ramai, muda-mudi terlihat bercengkerama di sana sini, ada juga yang sedang bermain sepak bola, basket, ada yang sedang tampak bersantai dengan keluarga, mereka begitu senangnya meluangkan waktu sore ini.
Sambil menikmati batagor yang dijual pedagang kaki lima di sekitar alun-alun, aku dan sahabatku ngobrol ngalor ngidul. Menikmati sore yang cerah.
Alun-alun kota kecil ini tampak indah setelah diperbaiki beberapa waktu lalu. Lebih sejuk, asri, dan nyaman untuk menghilangkan penat. Sekedar duduk-duduk, jogging, atau berolahraga seperti sepak bola, voli, basket atau lainnya.
Alun-alun ini terletak sangat dekat dengan pusat keramian kota yaitu pasar induk. Di sebelah barat alun-alun adalah sebuah sekolah menengah, lalu di sebelahnya kantor pos dan sebelahnya lagi adalah kodim.
Di selatan sekolah menengah yang terpisah oleh sebuah jalan raya terletak Masjid Jami’ kota Wonosobo. Dan di depan masjid atau di sebelah selatan alun-alun yang juga terpisah oleh jalan terdapat sebuah perpustakaan daerah. Dulu aku sering mengunjungi tempat itu.
Kemudian di sebelah selatan persis ada sebuah gereja yang bersanding dengan sebuah bank pemerintah. Jika kita menyeberang jalan ke timur, di sana akan kita temukan sebuah bangunan Pujasera.
Sebuah pendopo kabupaten tampak asri dengan rimbunan pohon-pohon di halamannya yang menghadap persis ke selatan. Pendopo tersebut terletak di utara alun-alun. Di sebelah timur tampak gedung kantor bupati yang sore ini sudah tampak sepi.
Di belakangnya tampak menjulang tinggi dan perkasa gunung sumbing. Kemudian di sebelahnya adalah gunung sindoro yang tak kalah hebat dengan gunung sumbing. Bagaikan dua sejoli yang tak terpisahkan satu sama lainnya.
Langit sore yang menjingga begitu bersahabat sore itu. Mendung terasa sungkan untuk mengusiknya.
Lalu, kuambil sebatang rokok, kuletakkan disela-sela mulutku. Kupatik api kecil dari pematik, sebentar kemudian berhamburan asap putih dari kedua lubang hidungku. Kutenggelamkan diriku sejenak dalam kedamaian sore.
Hingga tak terasa sang jingga tergantikan oleh gelap. Samar, kemudian semakin menggelap dan senja yang jingga harus rela lengser dari tahtanya. Lampu-lampu kota satu persatu mulai menyala. Menggantikan sinar matahari yang harus memberi kehidupan di belahan bumi lain. Senja beranjak pulang.
Malam tengah beranjak, kami memutuskan untuk berpindah tempat. Sebuah café, berlantai dua, dan sepi. Biasanya café ini ramai pada saat malam minggu. Ah, tapi ini malah bagus. Aku memang membutuhkan sedikit ketenangan. Kupesan dua cangkir kopi hitam manis. Sengaja kami pilih sebuah meja yang terletak di pojok dengan atap langsung langit dan bintang-bintang. Dihadapan pandang kami sebuah benda hitam tampak tersembunyi oleh malam, itulah gunung sumbing, di bawahnya deretan lampu-lampu tampak seperti ribuan kunang-kunang.
Temanku yang sedari tadi nyerocos saja tak begitu kutanggapi. Obrolan tentang apa saja, dan selalu saja ujungnya adalah seputar selangkangan. Kemudian tentang cewek-cewek yang pernah dikencaninya. Tentang si Lis penjaga toko obat yang cantiknya seperti selebriti, lalu Tari pegawai pegadaian yang seksi, kemudian ada Lena seorang mahasiswi yang katanya simpanan seorang pejabat setempat. Untuk yang terakhir ini ia memilih mundur waktu tahu Lena adalah simpanan pejabat. Keterangan itu ia korek setelah selesai bercinta di sebuah kamar hotel. Katanya ia mundur karena takut tidak lagi memiliki hak pilih di Pemilu mendatang karena statusnya kemudian kemungkinan adalah almarhum.
Sesekali kopi yang sudah dari tadi dingin kuseruput sedikit. Kemudian sesekali asap rokok menghambur berhembus beradu diudara yang dingin. Tak lama kemudian terlihat dua cewek cantik terlihat memasuki café, dan tanpa diduga temanku langsung berhambur kearah keduanya. Ternyata mereka saling kenal. Kubiarkan saja mereka ngobrol di meja lain. Sesekali derai tawa keluar dari mulut mereka. Entah apa yang mereka obrolkan. Aku tak peduli.
Aku kembali melayangkan pandanganku pada sosok gelap yang menjulang di kegelapan, dan lampu-lampu di bawahnya. Samar wajah ayah terlihat di sana. Dengan kerutan-kerutan yang semakin kentara diwajahnya. Tubuh tua yang semakin ringkih dan gampang sakit. Dengan beban berat yang ditanggungnya. Kekecewaan, yang tersamar diwajahnya.
Ah ayah, maafkanlah anakmu ini. Mungkin aku belum bisa menjadi seorang anak laki-lakimu yang kau harapkan. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha membahagiakanmu, membuatmu bangga. Aku ingin membuat air matamu mengalir tak lagi karena kesedihan dan himpitan hidup yang selama ini menghimpitmu.
Aku ingin air mata yang keluar dari sudut matamu adalah kebahagiaan dan kebanggaan. Aku akan menjadi laki-laki yang kau banggakan.
Uzee_Semarang, 260511.
Matahari belum lama membangunkan isi dunia. Kutelusuri jalan menuju kota kelahiranku dengan sepeda motorku. Menembus pagi yang menyisakan udara dingin berkabut. Hawa dingin mencoba menelisik melalui sela – sela jaketku. Di sebelah kiriku terlihat jelas menjulang memonopoli pandangan. Adalah gunung sumbing yang perkasa lalu di sebelah kananku adalah gunung sindoro yang begitu anggun. Mereka begitu jumawa mengapit jalan antar kota itu.
Begitu menakjubkan. Di kakinya, ladang – ladang tembakau bersanding dengan perkebunan teh yang menghijau siap untuk dipetik. Embun pagi terlihat menyelimuti dahan – dahan dan dedaunan. Membuat siapa saja sejenak mampu melepaskan semua beban hidup yang menindih, melupakan sejenak hidup yang tak berpihak padanya. Sungguh pagi yang menakjubkan di kaki sindoro sumbing. Dengan aroma khas yang begitu mendamaikan.
Rumah-rumah penduduk mulai menggeliat melanjutkan hidup. Di dalamnya para penghuni rumah telah terbangun dari mimpi yang membuai, kembali menghadapi kenyataan hidup yang sebenarnya.
Orang-orang dengan gairahnya memulai hari pergi menuju ladang-ladangnya dengan memikul dua buah keranjang yang berisi arit dan cangkul di pundaknya. Dengan sarung yang dipakai dibadannya menyerupai jubah. Terselip sebatang rokok lintingan di jarinya yang sesekali mendarat di sela sela bibir. Kemudian kepulan asap putih berhamburan keluar dari hidungnya. Udara dingin tidak mempengaruhi aktifitas mereka. Tentu saja karena mereka sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti ini.
Anak-anak sekolah berjalan dan ada yang berlarian sambil bergurau menuju mulut sebuah jalan kecil yang menghubungkan desa mereka dengan jalan raya. Di mulut jalan itu seorang kernet mikrobus terlihat bersemangat berkoar-koar agar mereka segera menaiki mikrobus yang sudah setengah penuh itu. Dengan memakai semacam penutup kepala dan kain sarung yang dilingkarkan di lehernya. Sementara sang sopir terlihat menghisap rokok sambil memandang arah depan. Sesekali ia mengecek dengan memandang ke dalam melalui kaca spion di bagian depan kendaraan yang menjadi penyambung nyawanya itu. Memastikan penuh atau tidaknya penumpang pagi ini. Sesekali asap putih keluar dari hidungnya. Asap rokok bercampur dengan uap air yang keluar dari mulut dan kedua lubang hidungnya.
Jalanan berkelok kelok dan menurun tajam berpadu dengan kabut tipis. Aku menuju rumah orangtuaku di Wonosobo. Pulang. Di kota kecil nan sejuk ini aku dilahirkan dan dibesarkan. Dua bulan lebih aku tidak pulang dari Semarang, kota dimana aku mengadu nasib.
Sepanjang perjalanan itu sesekali aku melewati bagian-bagian yang menjadi kepingan masa laluku. Sebuah SMA yang dulu menjadi tempatku menjalani masa remajaku dengan sahabat-sahabatku. Sejenak sengaja kupandang agak lama, sekilas senyum mengembang dibibirku, sebersit kerinduan terlukis di sana. Hingga bangunan itu telah berada jauh kutinggalkan.
Tak berapa lama, akhirnya aku sampai di rumah. Di sebuah desa di sebelah tenggara kota Wonosobo. Deru motor memanggil kedua adikku yang masih kecil berhamburan keluar. Adikku yang paling kecil baru saja akan masuk SD tahun ini. Sedangkan kakaknya naik kelas 3 SD.
Lalu aku masuk ke rumah. Di dalamnya kulihat lelaki yang di wajahnya terbias beban yang amat dalam. Kerutan-kerutan diwajahnya semakin jelas terlihat. Tubuhnya semakin renta dimakan usia. Rambut yang didominasi warna putih tertanam di batok kepala dengan jidat yang keras. Terbaca di sana berbagai macam beban pikiran yang terbenam dalam.
Ah, ayah….kau terlihat semakin tua. Ringkih dan tak berdaya. Namun kau selalu memaksakan tubuhmu itu. Melawan guratan-guratan umur yang tak bisa dilawan. Dengan tenaga yang tersisa dalam tubuhmu, kau terus berjuang memenuhi tuntutan hidup yang kau tanggung.
Setiap aku memandangnya, ada sekelumit sesal mendesak di rongga dadaku. Ayahku dulu, berusaha mati-matian menguliahkanku ke Jogja. Ayahku yang selalu optimis memandang hidup. Dengan segala keterbatasannya dia mengeluarkan semua keringat di tubuhnya, tanpa pernah mengeluh. Tapi sayang, aku memupus semua harapannya. Aku drop out dari kuliah.
Aku tidak bisa memenuhi harapannya. Sebagai anak pertama, aku seharusnya menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Dan aku bisa mendapat pekerjaan yang layak agar aku bisa meringankan beban orangtuaku.
Ah, ayah…aku ingin sekali memeluk tubuhmu yang semakin renta, bersujud di kakimu. Sungguh, aku ingin memohon maafmu. Aku belum bisa menjadi anak yang bisa kau banggakan.
Delapan tahun yang lalu, dengan harapan yang besar dari ayah, aku melanjutkan studiku di sebuah universitas negeri di kota gudeg. Dengan menjual beberapa petak tanah warisan sebagai modal studiku di Jogja. Dan delapan tahun sungguh waktu yang teramat singkat.
Sungguh sangat sulit dibayangkan bagaimana usaha ayah untuk membiayai kuliah dan hidupku di jogja. Sedangkan ayah juga masih harus memikirkan sekolah adik-adikku. Entah berapa banyak peluh dan keringat serta airmata yang ayah korbankan untukku.
Ayah selalu mengajariku untuk menjadi orang yang kuat dan selalu bersikap optimis.
“Hidup itu keras, hidup adalah perjuangan,” katanya suatu kali.
“Kau harus menjadi laki-laki yang kuat dan pantang menyerah.”
Dan ayahku selalu mengulanginya lagi dalam setiap perbincangan kami.
Lelaki itu begitu kuat dimataku.
Pada waktu aku masih kecil ayahku bekerja di Jakarta. Tetapi krisis ekonomi yang melanda bangsa ini, ayahku terpaksa di PHK oleh pihak perusahaan. Ayahku terusir, ayahku terkhianati. Setelah itu kehidupan ekonomi keluargaku terombang-ambing.
Pernah saat aku baru lulus SMP, nenekku mengingatkan ayah agar aku tidak usah melanjutkan sekolah. “Sekolah nganggo duite sopo?” kata nenekku.
Tetapi ayahku menjawab dengan tegas bahwa bagaimanapun caranya ia ingin menyekolahkanku setinggi-tingginya, paling tidak melebihi ayahku.
Namun, mimpimu untuk melihatku memakai jubah toga pupus begitu saja.
Cuaca begitu cerah siang ini. Langit di atas rumahku membiru bersanding dengan awan putih berserakan. Angin sesekali berhembus menggoyang dahan pohon rambutan di depan rumahku. Daun-daunnya bergesekan bergemerisik melantunkan lagu alam. Ah tenangnya suasana seperti ini. Sangat jauh berbeda dengan hiruk pikuk di kota besar.
Sore hari aku jalan-jalan di kota Wonosobo dengan sahabatku. Setelah berkeliling sebentar kami putuskan untuk duduk-duduk di Alun-alun kota. Hawa sejuk terasa semilir di Alun-alun yang dikelilingi oleh pohon-pohon beringin yang entah sudah berapa puluh tahun berdiri kokoh di sana. Suasana seperti biasa begitu ramai, muda-mudi terlihat bercengkerama di sana sini, ada juga yang sedang bermain sepak bola, basket, ada yang sedang tampak bersantai dengan keluarga, mereka begitu senangnya meluangkan waktu sore ini.
Sambil menikmati batagor yang dijual pedagang kaki lima di sekitar alun-alun, aku dan sahabatku ngobrol ngalor ngidul. Menikmati sore yang cerah.
Alun-alun kota kecil ini tampak indah setelah diperbaiki beberapa waktu lalu. Lebih sejuk, asri, dan nyaman untuk menghilangkan penat. Sekedar duduk-duduk, jogging, atau berolahraga seperti sepak bola, voli, basket atau lainnya.
Alun-alun ini terletak sangat dekat dengan pusat keramian kota yaitu pasar induk. Di sebelah barat alun-alun adalah sebuah sekolah menengah, lalu di sebelahnya kantor pos dan sebelahnya lagi adalah kodim.
Di selatan sekolah menengah yang terpisah oleh sebuah jalan raya terletak Masjid Jami’ kota Wonosobo. Dan di depan masjid atau di sebelah selatan alun-alun yang juga terpisah oleh jalan terdapat sebuah perpustakaan daerah. Dulu aku sering mengunjungi tempat itu.
Kemudian di sebelah selatan persis ada sebuah gereja yang bersanding dengan sebuah bank pemerintah. Jika kita menyeberang jalan ke timur, di sana akan kita temukan sebuah bangunan Pujasera.
Sebuah pendopo kabupaten tampak asri dengan rimbunan pohon-pohon di halamannya yang menghadap persis ke selatan. Pendopo tersebut terletak di utara alun-alun. Di sebelah timur tampak gedung kantor bupati yang sore ini sudah tampak sepi.
Di belakangnya tampak menjulang tinggi dan perkasa gunung sumbing. Kemudian di sebelahnya adalah gunung sindoro yang tak kalah hebat dengan gunung sumbing. Bagaikan dua sejoli yang tak terpisahkan satu sama lainnya.
Langit sore yang menjingga begitu bersahabat sore itu. Mendung terasa sungkan untuk mengusiknya.
Lalu, kuambil sebatang rokok, kuletakkan disela-sela mulutku. Kupatik api kecil dari pematik, sebentar kemudian berhamburan asap putih dari kedua lubang hidungku. Kutenggelamkan diriku sejenak dalam kedamaian sore.
Hingga tak terasa sang jingga tergantikan oleh gelap. Samar, kemudian semakin menggelap dan senja yang jingga harus rela lengser dari tahtanya. Lampu-lampu kota satu persatu mulai menyala. Menggantikan sinar matahari yang harus memberi kehidupan di belahan bumi lain. Senja beranjak pulang.
Malam tengah beranjak, kami memutuskan untuk berpindah tempat. Sebuah café, berlantai dua, dan sepi. Biasanya café ini ramai pada saat malam minggu. Ah, tapi ini malah bagus. Aku memang membutuhkan sedikit ketenangan. Kupesan dua cangkir kopi hitam manis. Sengaja kami pilih sebuah meja yang terletak di pojok dengan atap langsung langit dan bintang-bintang. Dihadapan pandang kami sebuah benda hitam tampak tersembunyi oleh malam, itulah gunung sumbing, di bawahnya deretan lampu-lampu tampak seperti ribuan kunang-kunang.
Temanku yang sedari tadi nyerocos saja tak begitu kutanggapi. Obrolan tentang apa saja, dan selalu saja ujungnya adalah seputar selangkangan. Kemudian tentang cewek-cewek yang pernah dikencaninya. Tentang si Lis penjaga toko obat yang cantiknya seperti selebriti, lalu Tari pegawai pegadaian yang seksi, kemudian ada Lena seorang mahasiswi yang katanya simpanan seorang pejabat setempat. Untuk yang terakhir ini ia memilih mundur waktu tahu Lena adalah simpanan pejabat. Keterangan itu ia korek setelah selesai bercinta di sebuah kamar hotel. Katanya ia mundur karena takut tidak lagi memiliki hak pilih di Pemilu mendatang karena statusnya kemudian kemungkinan adalah almarhum.
Sesekali kopi yang sudah dari tadi dingin kuseruput sedikit. Kemudian sesekali asap rokok menghambur berhembus beradu diudara yang dingin. Tak lama kemudian terlihat dua cewek cantik terlihat memasuki café, dan tanpa diduga temanku langsung berhambur kearah keduanya. Ternyata mereka saling kenal. Kubiarkan saja mereka ngobrol di meja lain. Sesekali derai tawa keluar dari mulut mereka. Entah apa yang mereka obrolkan. Aku tak peduli.
Aku kembali melayangkan pandanganku pada sosok gelap yang menjulang di kegelapan, dan lampu-lampu di bawahnya. Samar wajah ayah terlihat di sana. Dengan kerutan-kerutan yang semakin kentara diwajahnya. Tubuh tua yang semakin ringkih dan gampang sakit. Dengan beban berat yang ditanggungnya. Kekecewaan, yang tersamar diwajahnya.
Ah ayah, maafkanlah anakmu ini. Mungkin aku belum bisa menjadi seorang anak laki-lakimu yang kau harapkan. Tapi aku berjanji, aku akan berusaha membahagiakanmu, membuatmu bangga. Aku ingin membuat air matamu mengalir tak lagi karena kesedihan dan himpitan hidup yang selama ini menghimpitmu.
Aku ingin air mata yang keluar dari sudut matamu adalah kebahagiaan dan kebanggaan. Aku akan menjadi laki-laki yang kau banggakan.
Uzee_Semarang, 260511.
Komentar
Posting Komentar