Tragic

14 Desember 2010
19.32

Beberapa jam sebelumnya.
Hari itu langit kota Semarang sedang pilu. Matahari tengah malas menampakkan diri. Sedang patah hati barangkali. Titik-titik air berebut mencumbui udara yang lumayan dingin. Yang tidak beberapa lama kemudian langit secara emosional menumpahkan keluh kesahnya. Hujan. Hujan turun deras siang itu.
Ah sial..seharusnya hari ini adalah waktuku untuk hang out. Hari selasa adalah hari liburku. Agak ganjil memang. Disaat orang-orang menikmati hari minggu untuk bersantai di rumah sambil baca Koran dan minum kopi, aku harus bekerja. Sedangkan hari selasa saatnya orang-orang berjibaku dengan kesibukan, maka aku sebaliknya. Orang lain memiliki istilah malam mingguan, sedangkan bagiku malam selasanan.
Dengan malas aku berusaha membangunkan diri dari tidur siangku. Kupicingkan mataku yang masih mengantuk. Kucari-cari handphone yang seingatku kutaruh di sebelahku. Ah, ternyata di bawah bantal. Ku pencet tombol unlock lalu tombol bintang di pojok kiri bawah. Dan terbukalah mataku karena ternyata tidur siangku berdurasi 4 jam.
Kugaruk-garuk rambutku yang semakin panjang tak beraturan. Rambutku ikal dan kalau memanjang bentuknya seperti sulur kesurupan karena susah sekali diatur. Jika rambutku basah habis mandi, maka jika ditata akan terbentuk sebuah model rambut yang tak kalah dengan rambut para model yang nampang di tembok-tembok tukang cukur rambut.
Nah, tapi jika matahari sedang on fire, panasnya sampai ubun-ubun, saat itulah rambutku mongering, lalu meronta dan bergelinjang kesana kemari seperti cacing kepanasan. Jauh, sangat jauh dengan rambut para model yang nampang di tembok tukang cukur.
Teman-teman di kampungku suka sekali memanggil seseorang dengan sembarang nama sesuai karakter atau ciri fisik yang melekat. Seperti mereka suka memanggilku gombolan, gombolan adalah bahasa jawa dari semak belukar yang rimbun dan biasanya bersarang ular disana. Dan karena rambut gondrongku bentuknya ikal menjulur dan tak beraturan, mereka dengan seenak perut memanggilku gombolan.
Kuedarkan pandanganku menyapu ruangan kamarku. Terhenti pada sebuah foto yang tertempel di pintu lemari pakaianku.
Foto yang diam-diam sengaja kucuri dari facebookmu, lalu aku print dengan kertas foto yang juga diam-diam kuambil dari kantorku dan tentu saja ngeprintnya juga diam-diam.
Lagi-lagi dengan diam-diam aku ambil sticker transparan di kantor. Lalu kulapisi fotomu dengan sticker transparan itu agar tidak pudar.
Satu foto wajah anggunmu dengan rambut panjang terurai rapi memandang ke arahku. Dengan latar belakang rimbun pohon dengan air sungai kecil mengalir dibawahnya, lalu batu-batuan kecil tampak di pinggir sungai menyambut aliran air. Dengan background yang sengaja diblurkan, kau yang memakai baju coklat muda terlihat sangat anggun.
Dan selama bertahun-tahun aku memendam rasa cintaku padamu dengan diam-diam. Ah, tentu saja diam-diam. Namanya juga memendam. Kalau bilang-bilang namanya kan bukan memendam lagi. Dasar bodoh.
Cinta yang kupendam itu terungkap dalam goresan puisi yang kutulis dalam buku. Hampir tiap malam aku mencurahkan semua rasa rinduku padamu dalam bait-bait puisi. Karena aku bukanlah tipe orang yang suka cerita, semua masalahku selalu kupendam sendiri. Semua terpatri dalam ribuan huruf dan kata yang menari-nari dalam kalimat yang indah.
Bukan karena apa aku memendam selama bertahun-tahun rasa itu. Setiap kali aku memiliki sedikit keberanian untuk mengungkapkan cintaku padamu. Kau selalu saja sudah ada yang memiliki.
Dan aku tidak tahu apakah ada ruang di hatimu untukku. Yang pasti tidak ada wanita lain dalam hidupku yang bisa membuatku jatuh cinta seberat ini selain kamu.
Beberapa hari lalu, aku menyempatkan pulang. Aku main ke rumahmu. Namun kau tidak mau keluar. Padahal aku sangat ingin mengungkapkan perasaanku didepan matamu.
Namun setelah beberapa jam kutunggu kau tidak keluar. Aku hanya ngobrol-ngobrol dengan Galich, kakakmu dan Munir. Sambil berusaha bertingkah laku senormal mungkin untuk menutupi kegelisahaku.
Selama bertahun – tahun aku bersahabat dengan galich, telah berkali – kali aku main kerumahnya. Dan baru kali ini aku merasa sangat tidak nyaman.
Aku selalu mengirimkan sms untukmu, tapi tak pernah kau balas. Dasar, aku yang selalu berusaha berpikir positif tidak menyerah begitu saja. Terus saja kukirimkan sms meski tak pernah kau balas mungkin sampai kau muak.
Lalu aku sms kamu, aku bertanya kenapa kau sembunyi dalam bilik kamarmu saat aku di rumahmu? Aku juga mengirimkan pesan lewat akun facebookmu. Kau masih juga diam. Paling tidak sampai malam ini.
Aku putuskan untuk terjaga dari lamunanku dan bangkit dari dudukku. Aku ambil handuk dan perlengkapan mandi lalu meluncur ke kamar mandi.

********************
Langit masih sembab, awan hitam masih betah berlama-lama di langit sore itu. Aku berjalan melewati gang dekat kostku. Genangan air hujan terlihat menguasai jalan. Seorang ibu muda bersusah payah berjinjit-jinjit melewati genangan air sambil membimbing anak perempuannya yang berumur tidak lebih dari 5 tahun. Menjaga agar anaknya tidak terpeleset.
Sambil memegangi tangan ibunya, si anak memainkan kaki kecilnya di genangan air. Sesekali ibunya mengingatkan anaknya untuk tidak main air. Tapi dasar anak kecil, tentu saja ia tergoda untuk melanjutkan kesenangannya.
Huh, dingin juga udara sore ini. Sudah 3 hari berturut turut, kota Semarang yang biasaya panas menyengat, seperti kehilangan energi. Mendung selalu bergelanyut 3 hari ini. Disertai hujan deras sesekali. Kemudian dilanjutkan dengan gerimis yang cukup lama.
Aku merapatkan jaket jeansku dan mendapati sedikit kehangatan. Kunyalakan sebatang rokok yang kuselipkan diantara kedua bibirku.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk berjalan kaki dari kos menuju warung. Kurang dari sepuluh menit aku sudah berada di warung. Café Oshin, disini aku bekerja. Sebuah warung makan yang bertempat di sebuah Pujasera.
Bangunan Pujasera ini sangat khas dengan budaya cina. Dari bentuk hingga ornamen-ornamen yang menghiasinya. Bangunan yang cukup besar itu disewakan berdasarkan meja etalase berukuran 1,5 x 1 meter. Ada delapan meja etalase yang disewakan. Dan bosku menyewa dua meja sekaligus.
15 meja makan sengaja ditempatkan di depan meja-meja etalase yang disewakan.
Sore ini Pujasera agak sepi. Hanya dua meja yang terisi. Satu meja di depan warung cik Emi yang menjual gado-gado dan petis kangkung seorang laki-laki paruh baya terlihat sedang menikmati rokoknya sambil membuang pandangannya keluar.
Piring kotor dimejanya menjelaskan bahwa ia baru saja selesai makan. Sesekali memasukkan tusuk gigi ke sela-sela giginya.
Satu meja di depan tv tampak terisi oleh sepasang ABG yang sedang bercanda sambil menunggu pesanan.
Hari ini warung tempatku bekerja tutup. Kain coklat menutupi etalase. Di depan warung, saat buka, menghimpit tembok sebuah computer. Itulah yang kumaksud kantor tadi. Dengan sebuah meja sederhana, itulah tempatku bekerja, membelakangi warung.
Bosku membuka usaha Graphic Design bekerja sama dengan temanku. Dan aku ditahbiskan untuk jadi tukang desainnya. Saat pekerjaanku lengang, aku sering membantu warung makan.
Kunyalakan kompor gas lalu memasak mie rebus. Ah, kubayangkan nikmatnya makan mie rebus. Kenikmatan yang menantang dinginnya udara sore ini.

*******************
19.00
Kunikmati sebatang rokok dan secangkir kopi hitam manis. Ah nikmatnya kopi.
Kupejamkan mataku sejenak menikmati aroma kopi yang masuk ke dalam rongga hidungku dan air kopi manis yang menyusup ke dalam mulutku. Sejenak pikiranku melayang dalam kenikmatan yang khas. Tenggelam menyingkirkan dingin dan sumpeknya hidup.
Bagiku kopi bukanlah sekedar minuman. Dalam secangkir kopi tertuang refleksi hidup. Dalam adukan secangkir kopi, adalah pergulatan hidup. Getir hidup terwakili oleh pahitnya rasa kopi. Dan manisnya hidup terasa dalam manisnya gula. Pahit dan manis kehidupan adalah sebuah kepastian bagi yang hidup.
Saat pahit terpaksa kita kecap, sakit memang. Tapi jangan lupa bahwa hidup tak selamanya pahit. Kita harus ingat akan manisnya. Karena dengan begitu maka asa kita akan tetap terjaga.
Manisnya hidup, semua orang menginginkannya. Saat manis kita kecap, janganlah lupa akan pahitnya hidup, agar kita tidak tenggelam dan larut.
Ketika menyeruput secangkir kopi manis. Kita akan merasakan indahnya hidup. Pejamkanlah matamu, dan rasakanlah betapa indahnya hidup ini. Karena siapapun mereka, pasti akan merasakan pahit dan manis kehidupan. Apapun bentuknya.
Dan kali ini, aku harus merasakan pahit itu.
Duduk di depan televisi, kunikmati kopi sambil menonton sebuah opera komedi. Ketawa ketiwi oleh ulah para artis komedi di tivi. Si cewek di tivi tertawa seperti kunti. Hihihihi. Lucu sekali.

19.32
Tittittittittiittiiittt…..hp ku berbunyi tanda ada sms masuk.
Kupencet tombol unlock lalu bintang. Kubaca sms itu. Ah ternyata kamu sang pujaan hati.
Aku tersentak.
“Knpa to zi. Udahlh. Aku kmrn mang niat kbur. Udahlah.”
Sejenak dadaku gemetar, pikiran negatif menyergapku tanpa ampun. Nafasku berlarian tak jelas arahnya. Aku balas sms itu.
“Maksudmu?”
Sending……Message Delievered.
Lima menit berlalu, tidak ada jawaban.
Kuputuskan untuk menulis sms tentang semua perasaanku padanya. Tentang cintaku padanya. Tentang betapa aku sangat mencintainya.
“Aq akui, kau slalu membuatq gila, kau adl malam2q, aq slalu berharap bsa mmilikimu, y..aq mencintaimu, dalam hidupku hnya kmu yg mmbuatq mncntai seseorng seberat ini, b’thun aq hny mngharapmu. Jika mmng kau tdk menginginknq, jwblah aq, jngn lagi kau membuatq mngharap asa kosong…maaf bla kdng2 aq brlbihan, namun q tulus. Sungguh…”
Sending……Message Delievered.
Tittittittittiittiiittt…
Ah dia membalasnya.
“Maaf yo. Sehrusny km dah tw. Maaf.”
Semuanya seakan menghimpit. Aku terdiam. Nafasku terhenti. Jantungku menghentikan detaknya. Dadaku menyempit seakan mau meledak.
Penantianku bertahun-tahun, harapan terbesarku berakhir.
Tragis.


**************************

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil