Kembali rintik gerimis mengeja pikiranku Hembusan dinginnya memelukku beku, mengigil menyentuhku meraba lalu bertanya Ada apa dengan jiwa yang kupeluk? Jiwa itu terdiam dalam kekhusyukan galaunya Aroma kopi berpadu dengan udara yang bercinta dengan gerimis Panas yang menaunginya tersingkir dilumat habis Kuseruput sedikit kopi yang telah terenggut kehangatannya Lalu kucoba ceritakan padanya : “ Wahai rintik hujan yang memelukku, pernahkah hatimu terbelenggu? Mungkin tidak, karena kau selalu bergandeng mesra dengan dinginmu. Kau slalu bercumbu rayu dalam kedatanganmu, membawa kisah kisah cintamu yang tak terkekang waktu.” Ia tertawa sinis Kuseruput lagi kopi, sedikit lebih banyak “ Kau tahu, kadang aku ingin hembuskan kata kata penuh cinta padanya seperti yang selalu kau senandungkan pada kekasihmu. Puisi puisi rindu yang kau sematkan di dinding dinding hatinya. Nafas kasmaran yang kau hembuskan ke dalam relung jiwanya Lalu ia, k...
Komentar
Posting Komentar