Memilih untuk menjaga hati seorang wanita mungkin itu berarti kita harus memiliki sesuatu yang dapat digunakan untuk menjaga hati itu. Sebagai penerang dan penghangat ruang itu. Sebagai penjaga yang diharuskan berbuat apa saja agar hati itu tetap ada disana.
Cinta. Mungkin cinta itu yang kita butuhkan. Kita berikan cinta padanya agar hati itu selalu terjaga.
Dengan mencintainya, seseorang yang telah merelakan hatinya untuk kita jaga, adalah sebuah keharusan. Apa jadinya jika kita tidak memiliki cinta untuknya? Lalu bagaimana kita menjaga hatinya tanpa cinta?
Ibarat kita menjaga sesuatu di kegelapan, kita tidak memiliki penerangan atau lentera yang bisa digunakan. Kita bahkan tidah memiliki daya apapun untuk menjaganya, untuk menemaninya, memeluknya dikala dingin menyerang, menjadi pundak yang dimana dia sandarkan segala keluh kesahnya. Menjadi cawan dimata dia tumpahkan airmatanya.
Lalu menjadi tempat dimana dia merasa selalu bahagia, tertawa riang seperti musim semi, menari bak hujan dan tersenyum selaksa mentari pagi, indah bagai lembayung senja dan menjadi mimpi indaha dalam malam malamnya.
Jika tiada cinta, lalu di mana cinta itu berada? apakah masih tertinggal di suatu tempat? bagaimana bila tempat itu adalah sebuah hati yang tak terjamah? kemana cinta itu pergi? bagaimana kita harus memanggilnya kembali untuk kita berikan pada orang lain?
Ah, tidak. Kita tidak harus mencarinya, dimana ia dan apakah ia pernah ada pada suatu tempat dan kita tidak bisa dan tidak mungkin menjamahnya sedangkan cinta itu telah menjadi batu nisan disana.
Cinta bisa datang dan pergi, lalu mati lalu tumbuh lagi.
Lalu bagaimana kita meumbuhkan tunas cinta yang baru? Sedangkan ia di sanapun ragu akan cintanya?
Lalu kita disinipun ragu akan cinta kita?
Bagaimana cinta itu tumbuh lalu berbunga menyebar dalam seluruh relung jiwa dan langkah hidup kita?
Waktu.
Lagi-lagi waktukah yang menentukannya?
Aku tidak tahu..
Mungkin cinta itu belum tumbuh, dan kita hanya bisa berusaha untuk menumbuhkannya. Kita tanam benih benih cinta, kita sirami lalu biarkan ia tumbuh apa adanya.
Karena sungguh sebenarnya kita tidak ingin kehilangan dia.
Mungkin, kita mencintainya?
Uzee_Smg251011
Trimbil
Deretan kursi panjang terbuat dari kayu jati berjajar menghadap loket pengambilan resep obat dokter. Tampak tidak begitu ramai hari itu. Orang-orang tampak tidak begitu bergairah. bagaimana tidak, di tempat itu, deretan kursi panjang itu adalah deretan harapan dan kecemasan. Harapan untuk kesembuhan dan kesehatan mereka yang sakit dan sekaligus kecemasan bagi mereka yang miskin dan papa. Di antara mereka yang dilanda harapan dan kecemasan itu, Trimbil laki-laki kecil yang belum tamat SMP tampak duduk termenung. Menatap jam dinding yang terletak di atas loket. Tatapannya nanar, jarum jam yang selalu menari tak peduli seolah waktu tengah mempermainkannya habis-habisan. Dan Trimbilpun juga tak peduli. Tubuhnya kurus legam dan rambut keriting yang berwarna kemerahan tak terawat tampak seenaknya sendiri menjuntai kesana kemari tak karuan. Di wajahnya yang tirus, tergambar beban dan cambukan kehidupan yang ia tanggung. Pakaian pramuka yang sudah lusuh melekat di badannya. Seharusnya ha...
Komentar
Posting Komentar