Rindu

Malam tengah gerah seketika ditinggalkan hujan, hanya tersisa isakan kecil dalam gumpalan sesal yang tertinggal di sela udara yang mengigigil. mungkin ia hanya sekedar lewat, di atas genteng rumahmu yang rimbun oleh dedaunan dan dahan pohon jambu yang membisu. Membawa sekelumit sajak yang ia tulis dalam alunan sang bayu.
Ia bertanya :
"Bolehkah aku sekedar menyapa lewat barisan huruf dan kata-kata, ketika mulut terkunci dalam seribu tanya yang tercekat oleh kebekuan yang terlaknat sedang dada terus saja bergejolak.
Sekedar ingin tahu, seperti apakah kau gambar langit-langit malammu? Apakah tentang mimpi-mimpi yang kau coba kais dalam sisa-sisa malammu?
Pada siapa engkau ceritakan segala kegundahanmu?"

Hening hanya tersisa ketika jentik-jentik gerimis menuruni tangga langit
Hilang tawa dan segala nyanyian tertelan dinginnya tatapan matamu yang sunyi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil