kepada hujan

resah dan gundah ia sendiri menanti rinai hujan
dibawah keringnya dahan dan dedaunan pohon rambutan
ringkih terpaku sendiri di antara debu-debu ilalang
terbuang terpinggirkan tiada bertuan

sedangkan tanah kerontang di bawah kakinya serasa membakar
memusnahkan segala jejak yang ia pahat di segala ia berpijak
bebatuan cadas nan keras kini tinggallah sandaran yang ia punya
pun kadang tiada lagi ramah karena kerap membuat linu badan dan jiwanya

ia kemasi satu persatu serpihan asa dan segala mimpi yang kerap mengganggu
lalu ia gontai melangkah menyusuri setapak kecil berdebu
sejenak ia berhenti, ditatapnya langit lalu bertanyalah ia
hujan, kapankah engkau segera datang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil