Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Rumput Terdalam

Bosan, aku jenuh, aku lunglai, aku tertusuk, aku bosan Aku ingin bicara, mengangkat kuat – kuat kedua bibirku, membuka lebar – lebar mulutku, Aku tidak ingin bicara, tak ingin bicara apapun, bergumam pun ku tak ingin, Aku ingin teriak saja, ku ingin membuat dunia yang sunyi ini bergetar mendengar teriakku Aku ingin singa – singa dan serigala – serigala terbangun dari tidur panjangnya karena mendengar teriakku Aku sesak, aku terdesak, aku terjebak Aku ingin berjalan kemanapun kumau, mengangkat kakiku mengayunkannya secepat lalu sejauh mungkin Aku tidak ingin berjalan, tak ingin berjalan kemanapun, sejengkalpun tak ingin Aku ingin berlari, cepat. Secepat angin pemburu. Aku ingin berlari, jauh. Sejauh kematian menungguku. Sepi, sunyi Kalianlah sahabatku dalam sepi, dalam sunyi Beranjaklah dari pijakanku, pergilah karena akupun telah bosan bersama kalian Aku tak ingin lagi sunyi, aku tak mau lagi sepi Tak ingin kusendiri Aku ingin pergi ke sebuah tempat dimana burung – burung...

Pagi

Pagi mengetuk pintu-pintu mimpi anak-anak manusia Tuk segera pergi meninggalkannya Keluar dari labirin-labirin tak berujung Membuka mata tuk hidup yang harus dilanjutkan Ada yang berdecak : Ah, ternyata Cuma mimpi…. Ada yang berdecak : Ah, untung saja Cuma mimpi…. Ada pula yang tak peduli Uzee_Smrng, 200511

Waktu

Adalah kata yang tak terucap, membelenggu luapan jiwa yang tak terungkap. Tersalib oleh ruang yang kutak tahu dimana. Oleh waktu yang tak bisa ku raba. Seperti berlalu begitu saja. Seperti awan hitam yang membendungkan hujan. Namun tidak hujan. Hanya rintikan sekali kali terlihat. Gemuruh badai yang tak terdengar namun ada. Tersembunyi di balik angkuhnya dingin senja. Pagi seperti tak bersua. Malas tertidur dalam genggaman mimpi mimpi yang bisa menghanguskan semua. Embun mengering tergantikan debu. Dalam kalutnya asa yang mengganggu. Aku. Tak pernah bisa mengerti aku. Tak pernah bisa menyelami mencari tahu. Hanya termangu. Di sudut mimpiku. Waktu. Kau lahirkan semuanya. Kau tanamkan semuanya. Kau tumbuhkan semuanya. Lalu, kau hancurkan semuanya. Kau musnahkan semuanya. Kau hempaskan semuanya. Waktu. Lalu engkaukah yang akan menghapuskan semuanya? Membunuh semuanya? Mencabut semuanya? Waktu. Engkaukah yang akan menyembuhkan semuanya? Mengeringkangkan semuanya? Sejauh waktu memb...

Tragic

14 Desember 2010 19.32 Beberapa jam sebelumnya. Hari itu langit kota Semarang sedang pilu. Matahari tengah malas menampakkan diri. Sedang patah hati barangkali. Titik-titik air berebut mencumbui udara yang lumayan dingin. Yang tidak beberapa lama kemudian langit secara emosional menumpahkan keluh kesahnya. Hujan. Hujan turun deras siang itu. Ah sial..seharusnya hari ini adalah waktuku untuk hang out. Hari selasa adalah hari liburku. Agak ganjil memang. Disaat orang-orang menikmati hari minggu untuk bersantai di rumah sambil baca Koran dan minum kopi, aku harus bekerja. Sedangkan hari selasa saatnya orang-orang berjibaku dengan kesibukan, maka aku sebaliknya. Orang lain memiliki istilah malam mingguan, sedangkan bagiku malam selasanan. Dengan malas aku berusaha membangunkan diri dari tidur siangku. Kupicingkan mataku yang masih mengantuk. Kucari-cari handphone yang seingatku kutaruh di sebelahku. Ah, ternyata di bawah bantal. Ku pencet tombol unlock lalu tombol bintang di pojok...

Untuk Ayah

Memaksakan diri pulang dari Semarang ke Wonosobo jam 10 malam sendirian mengendarai motor adalah sebuah keputusan yang kurang bijak. Maka aku memutuskan untuk sedikit bijak demi keamanan, transit sebentar di Ambarawa di tempat kakak keponakanku. Aku menginap dulu di sana. Sebuah ruko yang dibuat tempat bimbingan belajar. Setelah pagi merekah, aku kemudian melajutkan perjalaanku. Matahari belum lama membangunkan isi dunia. Kutelusuri jalan menuju kota kelahiranku dengan sepeda motorku. Menembus pagi yang menyisakan udara dingin berkabut. Hawa dingin mencoba menelisik melalui sela – sela jaketku. Di sebelah kiriku terlihat jelas menjulang memonopoli pandangan. Adalah gunung sumbing yang perkasa lalu di sebelah kananku adalah gunung sindoro yang begitu anggun. Mereka begitu jumawa mengapit jalan antar kota itu. Begitu menakjubkan. Di kakinya, ladang – ladang tembakau bersanding dengan perkebunan teh yang menghijau siap untuk dipetik. Embun pagi terlihat menyelimuti dahan – dahan dan d...