Postingan

Sesal

Selembut senja yang berarak Meninggalkan gemuruh badai dalam sesak dada Dentangkan genta yang menggema Puisi menjelma di sela-sela hujan yang berujar Memburaikan sunyi menceraikan mimpi Sendu, terdengar isak tangis perempuan berkerudung merah jambu Memanggul sumpah serapah dan dosa yang menikam Tunduk terduduk di atas comberan bekas tarian dan nyanyian anggur Memeluk buntalan sesal dan sesak yang tersisa Dekap erat dalam dada yang bergetar lirih degup jantung enggan bersuara Seketika sunyi menghampiri Menawarkan sebilah pisau dan cawan perak Serta sekalimat maklumat perpisahan tertawan di ujung bibir yang kering Bising dan desing caci maki menembus kulit kusutnya Meluruhkan setiap pijakan Tanah tak lagi berdebu untuk ia mainkan kini dengan hentakkan kakinya yang tiada lagi mungil Lalu teringatlah ia akan wajah ibundanya yang bijak mengajaknya pulang masuk ke dalam rumah ketika ia basah dan menggigil oleh hujan membelai dan menyisir ramb...

Rembulan Di Atas Pohon Rambutan

rembulan hinggap di atas pohon rambutan pelan ia lindap terhasut awan hitam nan tebal diatas pohon rambutan ia kini hanya takut-takut mengintip di atas pohon rambutan yang gemetar mengigil ia dengar sebuah pesan sajak rindu dari angin yang mendekap erat setiap dahan dan dedaunan sementara sajak-sajak rindu berdendang menahan segala diam dalam seribu kesunyian kemana rembulan yang tadi hinggap di atas pohon rambutan? ia lenyap dipelukan awan pekat di atas pohon rambutan ia berkhianat hilang tiada berjejak

Tikam Aku, Sunyi

Aku bosan dengan segala kesunyian. Ialah yang senantiasa memelukmu erat, seperti seorang sahabat pada kalanya,yang selalu menemani   dalam setiap malam-malam kesendirianmu. Pelan namun pasti ia mencengkeram lalu menikam,hingga engkau merasa tersesat dalam ladang kesunyian. Ia semakin memelukmu mesra dan dalam. Membisikanmu mantra-mantra dan engkau enggan mengucap sepatah kata. Hanya darah mengalir disela sela air mata. Tiada rasa sakit,engkau seperti mati begitu saja tanpa tahu siapa yg telah mengalirkan darah dari nadimu. Tanpa tahu malaikat mana yang telah mencabut nyawamu. Lalu engkau seperti menemukan dirimu sendiri,dirimu yang sejati. Melangkah tak pasti melewati lorong-lorong mimpi yang hanya mimpi. Sendiri dan semakin sendiri. Lalu engkau hilang,terbuang,tak tertemukan.
Laut...di mana laut? Di mana laut yang senantiasa membisikkan pesan-pesan dari nahkoda kapal  kepada hamparan pasir dan batu karang lewat desahan ombak dan buaian manja buih-buihnya? Aku ingin menuju ke sana, melarungkan segala sesak dan luka. Gunung...setinggi apakah gunung? Di tempatku berdiri memangkasi mimpi-mimpi, ia tenggelam oleh sepasukan rimbun bambu yang membisu. Ingin kudaki gunung, melewati segala jurang yang mencekik nyali. Melarikan beribu cerca yang berisik menguntit di belakangku. Padang gurun...dimanakah padang gurun? Kata orang, ia begitu gersang lebih buruk dari ladang kekeringan, seperti neraka. Tempat di mana matahari begitu beringas dan buas mencambukkan teriknya. Aku ingin pergi ke padang gurun. Biar terbakar musnah segala hina yang membuat mata-mata itu tajam mencela.

kepada hujan

resah dan gundah ia sendiri menanti rinai hujan dibawah keringnya dahan dan dedaunan pohon rambutan ringkih terpaku sendiri di antara debu-debu ilalang terbuang terpinggirkan tiada bertuan sedangkan tanah kerontang di bawah kakinya serasa membakar memusnahkan segala jejak yang ia pahat di segala ia berpijak bebatuan cadas nan keras kini tinggallah sandaran yang ia punya pun kadang tiada lagi ramah karena kerap membuat linu badan dan jiwanya ia kemasi satu persatu serpihan asa dan segala mimpi yang kerap mengganggu lalu ia gontai melangkah menyusuri setapak kecil berdebu sejenak ia berhenti, ditatapnya langit lalu bertanyalah ia hujan, kapankah engkau segera datang?

Rindu

Malam tengah gerah seketika ditinggalkan hujan, hanya tersisa isakan kecil dalam gumpalan sesal yang tertinggal di sela udara yang mengigigil. mungkin ia hanya sekedar lewat, di atas genteng rumahmu yang rimbun oleh dedaunan dan dahan pohon jambu yang membisu. Membawa sekelumit sajak yang ia tulis dalam alunan sang bayu. Ia bertanya : "Bolehkah aku sekedar menyapa lewat barisan huruf dan kata-kata, ketika mulut terkunci dalam seribu tanya yang tercekat oleh kebekuan yang terlaknat sedang dada terus saja bergejolak. Sekedar ingin tahu, seperti apakah kau gambar langit-langit malammu? Apakah tentang mimpi-mimpi yang kau coba kais dalam sisa-sisa malammu? Pada siapa engkau ceritakan segala kegundahanmu?" Hening hanya tersisa ketika jentik-jentik gerimis menuruni tangga langit Hilang tawa dan segala nyanyian tertelan dinginnya tatapan matamu yang sunyi

sialan

mengapa segala terang harus selalu terusik dan terusir oleh pekat terang begitu hangat dan terlihat segala yang terhampar dan terhempas sedang pekat kadang mencipta imaji yang membawa serta jiwa tersesat dalam lorong-lorong sepi yang terlaknat, menyergap membuat tergagap jika terang adalah ia yang mencipta begitu banyak bimbang mengapa tiada Engkau tautkan seuntai rindu yang meradang yang seenaknya merangsek, mendobrak dan menerjang apa saja yang ia temukan hingga diri terhempas terbuang dalam jurang tak berbatas semilir angin menyapa menghempas jika ia hanyalah sekadar angin dan angan mengapa tak kau bangunkan saja aku dari mimpi indah nan sialan ini aku ingin terbangun lalu pulang