Sesal


Selembut senja yang berarak
Meninggalkan gemuruh badai dalam sesak dada
Dentangkan genta yang menggema
Puisi menjelma di sela-sela hujan yang berujar
Memburaikan sunyi menceraikan mimpi

Sendu, terdengar isak tangis perempuan berkerudung merah jambu
Memanggul sumpah serapah dan dosa yang menikam
Tunduk terduduk di atas comberan bekas tarian dan nyanyian anggur
Memeluk buntalan sesal dan sesak yang tersisa
Dekap erat dalam dada yang bergetar
lirih degup jantung enggan bersuara

Seketika sunyi menghampiri
Menawarkan sebilah pisau dan cawan perak
Serta sekalimat maklumat perpisahan tertawan di ujung bibir yang kering
Bising dan desing caci maki menembus kulit kusutnya
Meluruhkan setiap pijakan
Tanah tak lagi berdebu untuk ia mainkan kini
dengan hentakkan kakinya yang tiada lagi mungil

Lalu teringatlah ia akan wajah ibundanya yang bijak
mengajaknya pulang masuk ke dalam rumah
ketika ia basah dan menggigil oleh hujan
membelai dan menyisir rambutnya
Lalu bisiknya :
tidurlah nak, tidurlah saja
tak perlulah kau bermimpi sekarang
mimpi itu terlalu buruk untukmu
Tidurlah


Uzee_Wonosobo, 13 Mei 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil