Bingkai Senja


Bingkai Senja

D
alam sesendok bubuk kopi yang kutuangkan
Tersembunyi tawa burung gagak yang terbang di antara ratapan
Teriakan teriakan para musafir hidup
Berpijak pada beling dan duri di bawah telapak kaki mereka yang busuk
Mata tajam memburu hidup, ah bukan, mungkin nafsu
Dari mulut yang berbau busuk dan tubuh berlumur keringat bacin
Mereka memburu, seperti diburu

Dalam pusaran adukan kopi yang kutuang
Berkelebat putaran waktu yang tak mau diganggu
 Ia tak mau tahu meski bangkai bangkai menjadi kakinya
Dan darah menjadi pelumas serta tulang tulang menjadi jarum,
dan segala tetek bengek yang menggerakkannya
ia berputar tak acuh

Dalam nikmatnya kopi yang kuminum
Pahit dan manis menari nari di lidahku
Ah, mungkin tak ada lagi manis ataupun pahit
Ataukah tidak lagi bisa dibedakan?

Ah sudahlah, persetan dengan semua itu
Aku hanya ingin menikmati kopi di senja ini
Uzee,Smg_090212

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trimbil