Senandung Rumput Liar: Hujan: Di remang malam yang menghitam Jabang sang hujan, awan hitam menggantung Bayi bayi sang hujan, gerimis menitik Satu persatu membasahi luka y...
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Komentar
Postingan populer dari blog ini
Laut...di mana laut? Di mana laut yang senantiasa membisikkan pesan-pesan dari nahkoda kapal kepada hamparan pasir dan batu karang lewat desahan ombak dan buaian manja buih-buihnya? Aku ingin menuju ke sana, melarungkan segala sesak dan luka. Gunung...setinggi apakah gunung? Di tempatku berdiri memangkasi mimpi-mimpi, ia tenggelam oleh sepasukan rimbun bambu yang membisu. Ingin kudaki gunung, melewati segala jurang yang mencekik nyali. Melarikan beribu cerca yang berisik menguntit di belakangku. Padang gurun...dimanakah padang gurun? Kata orang, ia begitu gersang lebih buruk dari ladang kekeringan, seperti neraka. Tempat di mana matahari begitu beringas dan buas mencambukkan teriknya. Aku ingin pergi ke padang gurun. Biar terbakar musnah segala hina yang membuat mata-mata itu tajam mencela.
Kembali rintik gerimis mengeja pikiranku Hembusan dinginnya memelukku beku, mengigil menyentuhku meraba lalu bertanya Ada apa dengan jiwa yang kupeluk? Jiwa itu terdiam dalam kekhusyukan galaunya Aroma kopi berpadu dengan udara yang bercinta dengan gerimis Panas yang menaunginya tersingkir dilumat habis Kuseruput sedikit kopi yang telah terenggut kehangatannya Lalu kucoba ceritakan padanya : “ Wahai rintik hujan yang memelukku, pernahkah hatimu terbelenggu? Mungkin tidak, karena kau selalu bergandeng mesra dengan dinginmu. Kau slalu bercumbu rayu dalam kedatanganmu, membawa kisah kisah cintamu yang tak terkekang waktu.” Ia tertawa sinis Kuseruput lagi kopi, sedikit lebih banyak “ Kau tahu, kadang aku ingin hembuskan kata kata penuh cinta padanya seperti yang selalu kau senandungkan pada kekasihmu. Puisi puisi rindu yang kau sematkan di dinding dinding hatinya. Nafas kasmaran yang kau hembuskan ke dalam relung jiwanya Lalu ia, k...
Komentar
Posting Komentar