Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Gerimis di Kuburan Suamimu

Kupayungi tubuhmu yang sebagian telah basah dan kotor, menghindarkan air hujan yang terus saja berusaha membasahi tubuhmu. Tidak terlalu deras hujan sore ini. Hanya rintik-rintik sisa hujan tadi siang, namun masih membekas di mendungnya langit. Angin menaungi dengan membawa selimut dingin. Langit begitu sembab terisak. Sendu sepertimu. Tak hentinya engkau menangisi tanah merah yang memendam jasad suamimu. Kau masih belum percaya bahwa laki-laki yang perkasa dan selalu menyakitimu itu meninggalkanmu. Laki-laki itu begitu kuat terhadapmu, yang selalu tak segan mendaratkan tangan kasarnya di wajah ayumu. Memerahkan liurmu, menghitamkan bibirmu. Kau adalah wanita yang lembut, tak berbuat apa-apa meski bertubi-tubi kekejian menamparmu. Kau ikhlas, kau terima begitu saja perlakuan suamimu. Aku benar-benar tak paham denganmu. Kini laki-laki perkasa yang menguasaimu itu terbujur kaku di dalam timbunan tanah. Dia kini lemah, tak berdaya, hanya seonggok daging mati yang tak berguna. ****...

Aku, Malam dan Kamarku

Di malam ini kusapa malam tak berbintang. Karena mendung menyapu langit, begitu sejak dua malam ini. Bintang bintang memang sedang tidak diijinkan tersenyum oleh sang mendung. Dan langitpun tak bisa berbuat apa apa. Titik titik gerimis seakan runtuh menangisi sepi. Datang dengan belaian angin malam menghembuskan dingin hingga menyusup ke dalam tubuhku yang terbalut jaket hitam. Dari ruang kamarku yang sebelumnya adalah bagian dari ruang tamu yang sengaja disekat dengan papan, aku memandang keluar menembus kaca jendela. Sesekali korden berwarna biru yang entah sudah berapa lama tidak kucuci, manja dibelai angin yang berhembus masuk ke kamarku. Beradu dengan alunan lagu Sweetheartnya The Bee Gees yang bernyanyi dari mulut radioku. Ah, lagu yang indah. Daun daun pohon rambutan yang terletak tepat di seberang kamarku terbuai oleh tetesan air gerimis, menari seiring buaian angin yang mencumbuinya. Terdengar suara kucing yang sedang bertengkar memperebutkan betina barangkali, bersaing den...

Satu Sisi

M engagungkan cinta yang tak pernah kumengerti adalah penderitaan yang tak pernah kutahu ujungnya. Cinta yang kurasakan ibarat hanya satu sisi mata uang. Karena satu sisi yang kudambakan itu tak pernah mau menggubrisnya.  Satu sisi kepingan itu tak sudi. Kupikir.             Timpang.             Mungkin ibarat aku seperti uang logam 500 rupiah, sedang dia adalah sebuah mata koin emas berharga ratusan juta. Ingin aku pada suatu waktu, berdiri di depannya menatap matanya dan dia menatap mataku. Dalam bayanganku dia tersenyum manis seperti biasanya. Dengan kemantapan hati kukatakan semuanya. Bahwa aku sungguh mencintainya.             Berat hatiku jika seandainya dia benar-benar menampikku. Ah, aku tak tahu harus bagaimana. Kadang aku kuatir dan takut kehilangannya. Seseorang yang tak pernah kumiliki.    ...