Gerimis di Kuburan Suamimu
Kupayungi tubuhmu yang sebagian telah basah dan kotor, menghindarkan air hujan yang terus saja berusaha membasahi tubuhmu. Tidak terlalu deras hujan sore ini. Hanya rintik-rintik sisa hujan tadi siang, namun masih membekas di mendungnya langit. Angin menaungi dengan membawa selimut dingin. Langit begitu sembab terisak. Sendu sepertimu. Tak hentinya engkau menangisi tanah merah yang memendam jasad suamimu. Kau masih belum percaya bahwa laki-laki yang perkasa dan selalu menyakitimu itu meninggalkanmu. Laki-laki itu begitu kuat terhadapmu, yang selalu tak segan mendaratkan tangan kasarnya di wajah ayumu. Memerahkan liurmu, menghitamkan bibirmu. Kau adalah wanita yang lembut, tak berbuat apa-apa meski bertubi-tubi kekejian menamparmu. Kau ikhlas, kau terima begitu saja perlakuan suamimu. Aku benar-benar tak paham denganmu. Kini laki-laki perkasa yang menguasaimu itu terbujur kaku di dalam timbunan tanah. Dia kini lemah, tak berdaya, hanya seonggok daging mati yang tak berguna. ****...